Ada apa dengan Adelia? November lalu, Adelia yang kini menginjak usia 17 bulan itu menjalani transplantasi hati yang pertama digelar di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Donornya adalah sang ibu sendiri, Dwi Purwanti (33).
Adelia membutuhkan transplantasi hati karena mengalami atresia bilier, kondisi bawaan (kongenital) di mana terjadi penyumbatan pada saluran empedu. Dengan begitu, cairan empedu yang ada tidak bisa dikeluarkan, dan meracuni darah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Adelia ini beruntung karena (hati, red) ibunya sendiri sudah cocok, jadi kita tinggal mempersiapkan operasinya," terang Prof dr Mohammad Juffrie, PhD, SpA(K), Ketua Tim Transplantasi Hati Adelia, kepada wartawan di Lobi Paviliun Amarta RSUP Dr Sardjito, Kamis (11/2/2016).
![]() |
Tak disangka, hanya dalam waktu tiga bulan, Adelia sudah diperbolehkan pulang dalam kondisi yang jauh lebih baik. "Untuk saat ini yang paling kita takuti adalah tanda-tanda penolakan (organ, red). Tapi alhamdulillah itu tidak terjadi," ungkap dr Mochammad Syafak Hanung, SpA, Direktur Utama RSUP Dr Sardjito.
Hanung memastikan, kondisi ibu dan putri keduanya ini sehat, bahkan hal lain seperti infeksi yang biasanya muncul selepas operasi juga tidak ditemukan oleh tim medis.
Baca juga: Tetap Harus Skrining, Hubungan Keluarga Bukan Jaminan Bisa Donor Hati
Operasi transplantasi hati putri pasangan Cahyo Kustaman (33) dan Dwi Purwanti ini telah digelar pada tanggal 11 November lalu dan menghabiskan waktu selama 16 jam. Total 60 orang tim medis diterjunkan untuk mempersiapkan Adelia dan ibunya sejak pra operasi hingga hari H pelaksanaan.
Untuk transplantasinya sendiri, tim dokter bedah dari RSUP Dr Sardjito yang diturunkan sebanyak enam orang, dan dibantu oleh enam dokter spesialis yang didatangkan langsung dari Kyoto University, Jepang. Sebelum operasi berlangsung, keenam dokter ini juga berangkat ke Kyoto untuk mempelajari proses bedah transplantasi hati.
Baca juga: Ubah Pola Pikir! Operasi Cangkok Hati Tak Mahal
"Alhamdulillah, seneng banget. Anak sudah terbebas dari sakit. Selama ini kan itu yang dicari," timpal sang ibu, Dwi, saat ditemui dalam kesempatan yang sama.
![]() |
Meski begitu si kecil harus tetap diberi obat anti-penolakan organ serta menjalani kontrol hingga beberapa waktu ke depan. Namun secara umum, Dwi sudah melihat perubahan berarti pada putrinya itu. Di antaranya tubuh si kecil tak lagi berwarna kekuningan, begitu juga dengan mata dan urine-nya.
"Maaf ya, eek (buang air besar, red)-nya juga njendel (menggumpal, red) tapi setelah dioperasi, mata segala macem udah putih lagi, pipis udah bersih," urainya.
Ditemui di tempat yang sama, dr Wahyu Damayanti, SpA, anggota tim gastrohepatologi RSUP Dr Sardjito menambahkan, selepas Adelia, sudah ada dua pasien anak dengan atresia billier yang siap menjalani transplantasi hati, yakni Lukman (20 bulan) dan Cantika (1 tahun). Keduanya juga mendapat donor hati dari ibu masing-masing. (lll/vit)












































