Kisah bermula saat Rose menginjak usia dua tahun dan mulai mengalami 12 kali kejang setiap harinya. Rose pun dibawa ke Alder Hey Children's Hospital untuk menjalani serangkaian tes dan akhirnya didiagnosis dengan epilepsi.
Namun di saat yang bersamaan, dokter menemukan gejala lain yaitu otot-otot di tubuh Rose tidak dapat berfungsi dengan baik. "Ini terjadi begitu mendadak. Ia adalah bocah yang ceria dan bersemangat, tetapi tiba-tiba saja semuanya berhenti," kata sang ibu, Jo (39).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tak tahu penyebabnya membuat kami makin terpuruk," lanjut Jo.
Baca juga: Aura 'Mistis' Saat Epilepsi Menyerang
Sempat tak tahu harus ke mana, orang tua Rose akhirnya menemukan sebuah pusat terapi di Amerika yang khusus menangani anak-anak dengan gangguan saraf yang tidak dapat dijelaskan seperti Rose. Nama pusat terapinya adalah Family Hope Centre di Norristown, Pennsylvania.
Setelah disepakati, pusat terapi ini kemudian bekerjasama dengan tim dokter yang merawat Rose di Inggris agar si kecil dapat memulai terapi fisiknya sejak Oktober 2014 lalu.
Pertama-tama, pakar dari Family Hope Centre mengevaluasi perkembangan mental Rose untuk menentukan bagian otak mana yang tidak berfungsi dengan baik. Data ini juga dibutuhkan untuk menyusun berbagai rencana yang dibutuhkan agar gangguan yang dihasilkan oleh bagian otak tersebut dapat teratasi.
Menariknya, ada satu jenis latihan yang harus dilakukan Rose sebagai bagian dari terapinya. Latihan yang dimaksud adalah 'commando crawling', merangkak cepat seperti tentara saat berlatih, dan ini harus dilakukannya setiap hari.
Terapis mengklaim latihan ini dapat merangsang bagian otak yang sama dengan yang mengendalikan ekspresi wajah, yaitu cranial nerve. Tak disangka hanya enam bulan berlatih seperti ini setiap hari, Rose memperlihatkan kemajuan pesat. Termasuk bisa berjalan, bicara dan tersenyum lagi. Bahkan Rose bisa tertawa terbahak-bahak, dan kembali ceria seperti sedia kala.
"Ia memang masih tertinggal dari teman-temannya, tapi dengan terapi ini kami yakin ia bisa menyusul mereka. Kini kami tinggal menunggu hasil tes genetiknya," tutup Jo.
Baca juga: Dampak Kerusakan Otak, Seorang Pria Selalu Kejang Tiap Kali Main Sudoku (lll/vit)











































