Laskar Sakina Siap Bantu Tekan Angka Kematian Ibu dan Anak di Sempu Banyuwangi

Laskar Sakina Siap Bantu Tekan Angka Kematian Ibu dan Anak di Sempu Banyuwangi

Aditya Mardiastuti - detikHealth
Selasa, 17 Mei 2016 12:00 WIB
Laskar Sakina Siap Bantu Tekan Angka Kematian Ibu dan Anak di Sempu Banyuwangi
Foto: Aditya Mardiastuti
Sempu, Banyuwangi - Kematian ibu hamil yang tinggi membuat Puskesmas Sempu, Banyuwangi berintrospeksi. Tak mau kejadian itu terulang kembali, puskesmas ini meluncurkan program Sakina (Stop Angka Kematian Ibu Hamil dan Melahirkan Anak).

"Angka kematian Puskesmas Sempu menjadi tertinggi sebelum tahun 2014, dengan adanya Sakina itu sampai hari ini zero kematian," ujar Kepala Puskesmas Sempu Dr Hadi Khusairi, di lokasi, Senin (16/5/2016).

Hadi menjelaskan kegiatan yang dia bentuk untuk pendampingan ibu hamil berisiko tinggi. Hadi menjelaskan sejak awal kehamilan pun bila berisiko tinggi sudah didampingi oleh petugas khusus bentukan puskesmas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita punya laskar Sakina didampingi bidan wilyah. Semua ibu hamil satu kali dalam kehamilan dikonsultasikan ke dokter spesialis RSUD, pernah juga merujuk bayi kembar siam sampai RSUD dr Sutomo di Surabaya," katanya.

Tak hanya itu Hadi pun membuat rumah singgah di tepi hutan untuk ibu-ibu hamil yang sudah mendekati hari kelahiran. Dari situ nanti laskar Sakina akan melaporkan ke ambulans 'layanan jemput ibu' (laju).

Baca juga: Studi: Makin Panjang Cuti Melahirkan, Makin Rendah Risiko Kematian Bayi
"Rumah singgah di tepi hutan, itu rumah warga yang boleh digunakan. Manakala mendekati hari lahir ibu ditaruh ke rumah singgah. Dari situ laskar Sakina melapor ke ambulans laju, dijemput dan dibawa ke Puskesmas," jelasnya.

Program Sakina diluncurkan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi di Sempu, Banyuwangi. Foto: Aditya

Hadi juga menyadari pentingnya peran suami ketika istri sedang hamil. Apalagi bila kehamilan sang ibu berisiko tinggi. Hadi juga menyiapkan program 'Ngopi Bareng' bagi para suami untuk berdiskusi seputar kehamilan.

"Kita adakan ngopi bareng bersama bapak-bapak dan diajak diskusi mengenai ibu hamil berisiko tinggi. Tiap hamil kita ajak diskusi, beritahu melahirkan seperti ini," katanya.

Hadi juga menyediakan layanan penjemputan bagi ibu hamil yang tidak diantar suaminya. Dia pun menjelaskan laskar Sakina siap membantu sang ibu. Tak hanya itu untuk memancing warga melahirkan ke tenaga medis, Hadi memberikan program akte kelahiran gratis bagi sang anak.

"Yang menguruskan kami bentuk tim khusus semua yang melahirkan di wilayah Puskesmas Sempu dalam 2 hari sudah menerima akte kelahiran gratis, diantar oleh bidannya ke puskesmas dan dari laskar Sakina atau bidannya mengantar ke yang bersangkutan," tuturnya.

Ambulans 'layanan jemput ibu' (laju). Foto: Aditya

Hadi mengklaim program Sakina ini berhasil membuat Desa Sempu 'zero cases' dalam kematian ibu dan bayi. Program ini pun ikut dalam kompetisi Sistem Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) yang diadakan oleh Kementerian Pemberdayaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN RB).

"Dari ribuan, Sakina masuk top 99, diranking lagi 40 Besar. Dari 40 besar itulah mewakili Indonesia untuk PBB dalam 'United Nation Public Service Award', hanya sampai hari ini belum ada hasilnya. Kabarnya diberitahunya Juni," bebernya.

Baca juga: Risiko Kematian Bayi Mendadak Meningkat Jika Ibu Berusia di Bawah 20 Tahun

Sementara itu, daerah cakupan puskesmas pembantu (Pustu) Sumberjo juga ditemukan ibu hamil yang berisiko tinggi. Menurut bidan Dwi Kartika Sari saat ini ada tiga ibu hamil yang selalu dicek kondisinya.

"Tiap Selasa kami keluar, biasanya yang jaga di Pustu dokter magang," ujar Tika.

Kehadiran dokter magang dinilai cukup membantu pekerjaan mereka. Apalagi daerah di kaki Gunung Raung ini juga terpencil.

"Loket kami buka dari pukul 7.30-12.00 WIB. Setiap hari paling sedikit kunjungan lima orang. Paling sering kasusnya ispa dan hipertensi," papar Rossa yang merupakan mahasiswi kedokteran dari UII Yogyakarta.

Rossa lantas menjelaskan kondisi ibu hamil dengan risiko tinggi. "Ibu-ibu ada pemeriksaan hamil dan risiko tinggi dipantau sampai melahirkan. Tekanan darah lebih dari normal dan kejang-kejang. Ada beberapa kasus tapi sudah dipantau dan menurun." ujarnya.

(ams/vit)

Berita Terkait