"Angka kematian Puskesmas Sempu menjadi tertinggi sebelum tahun 2014, dengan adanya Sakina itu sampai hari ini zero kematian," ujar Kepala Puskesmas Sempu Dr Hadi Khusairi, di lokasi, Senin (16/5/2016).
Hadi menjelaskan kegiatan yang dia bentuk untuk pendampingan ibu hamil berisiko tinggi. Hadi menjelaskan sejak awal kehamilan pun bila berisiko tinggi sudah didampingi oleh petugas khusus bentukan puskesmas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu Hadi pun membuat rumah singgah di tepi hutan untuk ibu-ibu hamil yang sudah mendekati hari kelahiran. Dari situ nanti laskar Sakina akan melaporkan ke ambulans 'layanan jemput ibu' (laju).
Baca juga: Studi: Makin Panjang Cuti Melahirkan, Makin Rendah Risiko Kematian Bayi
Program Sakina diluncurkan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi di Sempu, Banyuwangi. Foto: Aditya |
Hadi juga menyadari pentingnya peran suami ketika istri sedang hamil. Apalagi bila kehamilan sang ibu berisiko tinggi. Hadi juga menyiapkan program 'Ngopi Bareng' bagi para suami untuk berdiskusi seputar kehamilan.
"Kita adakan ngopi bareng bersama bapak-bapak dan diajak diskusi mengenai ibu hamil berisiko tinggi. Tiap hamil kita ajak diskusi, beritahu melahirkan seperti ini," katanya.
Hadi juga menyediakan layanan penjemputan bagi ibu hamil yang tidak diantar suaminya. Dia pun menjelaskan laskar Sakina siap membantu sang ibu. Tak hanya itu untuk memancing warga melahirkan ke tenaga medis, Hadi memberikan program akte kelahiran gratis bagi sang anak.
"Yang menguruskan kami bentuk tim khusus semua yang melahirkan di wilayah Puskesmas Sempu dalam 2 hari sudah menerima akte kelahiran gratis, diantar oleh bidannya ke puskesmas dan dari laskar Sakina atau bidannya mengantar ke yang bersangkutan," tuturnya.
Ambulans 'layanan jemput ibu' (laju). Foto: Aditya |
Hadi mengklaim program Sakina ini berhasil membuat Desa Sempu 'zero cases' dalam kematian ibu dan bayi. Program ini pun ikut dalam kompetisi Sistem Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) yang diadakan oleh Kementerian Pemberdayaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN RB).
"Dari ribuan, Sakina masuk top 99, diranking lagi 40 Besar. Dari 40 besar itulah mewakili Indonesia untuk PBB dalam 'United Nation Public Service Award', hanya sampai hari ini belum ada hasilnya. Kabarnya diberitahunya Juni," bebernya.
Baca juga: Risiko Kematian Bayi Mendadak Meningkat Jika Ibu Berusia di Bawah 20 Tahun
Sementara itu, daerah cakupan puskesmas pembantu (Pustu) Sumberjo juga ditemukan ibu hamil yang berisiko tinggi. Menurut bidan Dwi Kartika Sari saat ini ada tiga ibu hamil yang selalu dicek kondisinya.
"Tiap Selasa kami keluar, biasanya yang jaga di Pustu dokter magang," ujar Tika.
Kehadiran dokter magang dinilai cukup membantu pekerjaan mereka. Apalagi daerah di kaki Gunung Raung ini juga terpencil.
"Loket kami buka dari pukul 7.30-12.00 WIB. Setiap hari paling sedikit kunjungan lima orang. Paling sering kasusnya ispa dan hipertensi," papar Rossa yang merupakan mahasiswi kedokteran dari UII Yogyakarta.
Rossa lantas menjelaskan kondisi ibu hamil dengan risiko tinggi. "Ibu-ibu ada pemeriksaan hamil dan risiko tinggi dipantau sampai melahirkan. Tekanan darah lebih dari normal dan kejang-kejang. Ada beberapa kasus tapi sudah dipantau dan menurun." ujarnya.
(ams/vit)












































Program Sakina diluncurkan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi di Sempu, Banyuwangi. Foto: Aditya
Ambulans 'layanan jemput ibu' (laju). Foto: Aditya