"Sekolah atau nggak sekolah pada dasarnya perlu dibatasi akses anak terhadap gadget kan. Screening time-nya perlu dibatasi," kata psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi.
Artinya, kata Ratih, pada dasarnya orang tua sudah memiliki aturan tentang penggunaan gadget yang mesti dipatuhi anak meski ia sedang tidak sekolah. Meski memang tak dapat ditampik bahwa saat liburan sekolah, pastinya anak harus enjoying the holiday, demikian disampaikan Ratih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya saja, anak ikut kelompok menulis atau ketika ia hobi menggambar kartun, mungkin orang tua bisa mengikutsertakan dia dalam sebuah workshop. Untuk anak yang usianya masih balita, bisa diberi kegiatan yang merangsang sensori mereka misalnya membuat prakarya.
Baca juga: Saran Psikolog Jika Ortu Hendak Bolehkan Anak Main Pokemon Go
Sementara, untuk anak yang sudah agak besar, mereka bisa diminta membuat jurnal. Di jurnal itu, anak diminta menceritakan apa yang ia lakukan sehari-hari selama liburan. Kemudian, bisa juga digunakan berbagai macam atribut lain sehingga jurnal si kecil berbentuk wrap book.
![]() |
Memberikan Latihan Soal untuk si Kecil
Jika kebetulan si kecil akan duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), bagaimana jika orang tua 'melatih' anak mempelajari materi di sekolah, misalnya dengan latihan mengerjakan soal di waktu liburan mereka?
"Kalau ngerjain soal, nggak usah ya. Mau masuk sekolah bukan kayak ujian, jadi ibaratnya nggak perlu diujiin di rumah dulu. Anak bisa merasa bahwa sekolah ini kok jadi beban banget ya, nggak enak," tutur Ratih.
Menurut dia, penting bagi orang tua untuk tetap melatih anak berkegiatan. Apalagi, jika memang anak sudah mengerti baca-tulis-hitung, maka pemberian latihan soal dirasa tidak perlu. Namun, itu semua pastinya kembali lagi pada keputusan masing-masing orang tua.
Ratih justru menyarankan orang tua untuk membentuk jam biologis anak. Misalnya anak jadi lebih jarang menonton TV dan memiliki jadwal kegiatan yang terstruktur. Sementara, jika anak hendak masuk Taman Kanak-kanak (TK), Ratih menyebutkan persiapannya tidak serumit ketika anak akan masuk SD.
"Sebenarnya TK kan bukan sekolah ya hitungannya, tapi taman bermain. Persiapannya ya paling ngenalin sekolahnya itu ke anak. Terus diinfo ke anak kalau di TK itu dia akan mengenal teman yang lain, belajar menggambar, mewarnai, jadi perlu disounding-lah istilahnya," pungkas Ratih.
Baca juga: Studi: Stres yang Dialami Guru Berdampak pada Kesehatan Mental Murid (rdn/vit)












































