Menurut dokter spesialis anak dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, dr Meta Hanindita, SpA, sembelit atau konstipasi adalah gangguan pada BAB ditandai keluarnya feses yang sulit, keras, tidak basah dengan ukuran lebih besar dari biasanya. Atau bisa juga frekuensi BAB yang kurang dari 3 kali seminggu.
Kondisi ini bisa terjadi karena beberapa hal. Salah satunya adalah gangguan anatomis atau masalah saraf. Bisa juga karena obat-obatan yang dikonsumsi anak atau adanya faktor metabolik seperti kurangnya hormon tiroid.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun demikian, dr Meta menyebutkan lebih dari 95 persen kasus sembelit pada anak di atas satu tahun adalah konstipasi fungsional. Kondisi ini berawal dari kurang makanan berserat atau kurang aktivitas.
Selain itu, sembelit juga bisa disebabkan oleh pemberian susu formula. Dikatakan bahwa ada beberapa susu formula seperti soya yang lebih cenderung membuat kotoran lebih keras dan frekuensinya jadi lebih jarang.
"Yang utama, bisa juga karena kurang minum air putih. Minum setiap kali makan, sekali di antara waktu makan dan sebelum tidur," sambung dr Meta.
Yang perlu diperhatikan, terlalu banyak konsumsi susu sapi atau produk susu lain seperti keju dan yoghurt, justru dapat
mengakibatkan sembelit pada sebagian anak. Selain itu riwayat keluarga dengan sembelit juga turut menyumbang faktor penyebab anak cenderung mengalami sembelit.
Baca juga: Bayi Mulai Diberi MPASI? Jangan Lupa Perhatikan Fesesnya, Ya
(ajg/vit)











































