"Mungkin kita sering bilang 'ah gitu aja marah atau nangis' pada anak. Padahal marah maupun nangis itu natural. Kadang bagi orang tua, masalah anak itu sepele. Tapi bagi anak bisa jadi tidak sesepele itu," kata psikolog Wikan Putri Larasati, M.Psi.Psikolog ditemui beberapa waktu lalu di Balai Kartini, Jl Gatot Soebroto, Jakarta.
Jika anak sering mendapatkan kalimat seperti itu, menurut Wikan, anak akan merasa perasaannya tidak penting. Akibatnya anak jadi tidak mengenali emosinya. Nah, jika tidak kenal emosinya, maka anak juga tidak memiliki kecerdasan emosional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Psikolog: Anak Usia 4-6 Tahun Masih Tantrum, Tanda Pola Asuh Tidak Tepat
"Bisa saja anak lahir dengan kecerdasan emosi yang nggak bagus-bagus amat. Tapi kalau lingkungannya bagus, membuat dia bisa mengelola emosi dengan baik, maka akan membuatnya lebih cerdas secara emosi," tutur psikolog dari Leader Lab ini.
Ibu dua anak ini menjelaskan anak yang cerdas emosi biasanya lebih gigih. Kecerdasan emosi ini juga bisa mendukung prestasi akademik yang baik.
Lalu bagaimana sebaiknya orang tua bersikap saat anaknya marah-marah atau menangis karena kesal? "Jangan sampai dia menganggap perasaannya nggak penting. Saat dia marah-marah mungkin bisa dibilangi, 'Mama tahu Adik marah, nggak apa-apa bilang saja,'" kata Wikan sembari mengatakan perlunya orang tua memberikan contoh cara mengekspresikan emosi yang efektif.
Baca juga: Ini Lho Manfaat Menari dan Menyanyi Bagi Emosional Anak
(vit/up)











































