Kamis, 26 Jan 2017 08:37 WIB

Asal Bayi Tak Alergi, Ibu Menyusui Tak Perlu Pantang Makan Ikan

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Pasca melahirkan, ada beberapa hal yang dianjurkan dipantang ibu. Salah satunya adalah untuk tidak makan ikan selama 40 hari pasca si kecil lahir. Padahal, justru ikan menjadi salah satu asupan bergizi bagi ibu yang baru melahirkan.

"Beberapa daerah, misalnya di Batang itu masih ada mitos bahwa ibu melahirkan nggak boleh makan ikan selama 40 hari setelah melahirkan. Itu mitos saja. Ikan mengandung protein tinggi, bergizi dan penting untuk produksi ASI," kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek di sela-sela Peringatan Hari Gizi Nasional ke-57 di Kantor Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (25/1/2017).

Menkes Nila mengatakan tidak harus ikan laut, ikan air tawar pun mengandung protein yang cukup tinggi, misalnya saja lele dengan cara membudidayanya yang tak terlalu rumit. Selain pada ibu melahirkan, Menkes Nila mengatakan mitos semacam ini juga kadang berlaku pada ibu hamil.

Baca juga: Tak Boleh Angkat Beban dan Beragam Pantangan Ibu Hamil, Ini Kata Dokter

"Mitosnya makan ikan nggak baik untuk ibu hamil. Padahal ibu hamil harus memberi gizi yang baik untuk bayinya," ujarnya.

Dalam kesempatan sama, Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, dr Anung Sugihantono MKes mengatakan sebetulnya tidak masalah jika ibu hamil atau melahirkan mengonsumsi ikan. Nah, untuk 'mematahkan' mitos seperti itu awalnya bisa dilihat dulu pemikiran semacam itu dari siapa dan dicari tokoh yang cukup berpengaruh terhadap pandangan dan pendapat dari masyarakat.

"Seperti kemarin di satu puskesmas di Pekalongan, anak yang kurus maupun pendek jumlahnya 138. Sebetulnya apa yang terjadi dengan ini, itu yang harus kita intervensi. Presiden jelas sekali message-nya tolong masyarakat dijaga betul, tambahi (konsumsi) sayur, telur, protein. Ibunya dipanggil protein itu apa saja, itu selalu ditanyakan," tutur dr Anung.

Soal tumbuh kembang anak, Menkes Nila mengungkapkan otak anak sudah berkembang sejak di dalam kandungan, termasuk volume, sel, dan jaringan di otak yang disebut sinapsis. Nah, untuk membuka sinapsis dan mengaitkan satu jaringan ke jaringan lain, selain butuh asupan gizi yang cukup juga dibutuhkan stimulai.

Stimulasi, kata Menkes Nila bisa diberi lewat musik dengan nada tertentu atau belaian karena anak tentunya memerlukan kasih sayang. Nah, perkembangan otak anak sampai dia berusia 2 tahun (1.000 hari pertama kehidupan) masih bisa 'diperbaiki' jika sebelumnya ada kekeliruan dalam pemberian stimulasi atau asupan gizi.

"Saya tidak tahan mendengar kekerasan yang terjadi pada anak. Gimana anak ini bisa dapat stimulasi baik kalau dia mendapat kekerasan. Ini (kekerasan) bisa membuat anak berperilaku tidak baik. Kalau keluarga kita keluarga baik, maka akan beri stimulasi baik untuk anak yang membuat dia berkepribadian baik dan punya kesempatan untuk berprestasi," kata Menkes Nila.

Kepada detikHealth beberapa waktu lalu, dr Meta Hanindita SpA menegaskan tak ada pantangan konsumsi makanan khusus bagi ibu melahirkan. Hal terpenting, ibu mendapat asupan dengan gizi mencukupi.

"Kecuali jika memang anak alergi terhadap makanan tertentu, maka selama menyusui sebaiknya ibu stop konsumsi makanan tersebut," kata dr Meta.

Baca juga: Mendisiplinkan Anak, Haruskah dengan Kekerasan?

(ajg/vit)
d'Mentor
×
dMentor: Awas Manipulasi Robot Trading
d'Mentor: Awas Manipulasi Robot Trading Selengkapnya