Kamis, 09 Mar 2017 12:05 WIB

Vaksin Diharap Bisa Tekan Angka Kematian Akibat Pneumonia

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Pneumonia masih menjadi masalah kesehatan yang mengancam nyawa anak-anak di Indonesia. Atas dasar itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mencanangkan pilot project peluncuran vaksin pneumonia di pertengahan tahun ini.

Direktur Surveilans dan Karantina Penyakit Kementerian Kesehatan Ri, dr Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc, menyebut vaksin pneumonia merupakan salah satu dari tiga vaksin baru yang akan diluncurkan pada tahun 2017. Peluncuran pertama akan dilakukan di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

"Kenapa Lombok? Karena pneumonia paling tinggi di sana. Kita ingin coba mendokumentasikan data semua untuk melihat adakah dampak penurunan pneumonia yang sekaligus menurunkan angka kematian bayi," kata dr Jane.

Baca juga: Sampel Cendawan Cikal Bakal Penisilin Laku Keras di Lelang

Pemberian vaksin dilakukan sebanyak tiga kali, yakni pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan dan 12 bulan. Di tahun kedua, diharapkan sudah ada dokumentasi data yang terlihat.

Adanya dokumentasi data diharapkan dapat menjadi bekal pengajuan vaksin pneumonia sebagai program nasional. Jika hasil pilot project di Lombok memuaskan, bisa saja vaksinasi pneumonia menjadi program nasional. Dengan begitu masyarakat bisa mendapat manfaat vaksin gratis sekaligus mencegah kematian anak dan bayi akibat pneumonia.

"Kita berharap, masyarakat juga mendukung, Pemda juga harus mendukung. Dengan membawa bukti data, rekaman di sana, akan memudahkan pemerintah berjuang ke DPR dan menunjukkan ini efektif," lanjutnya lagi.

Adanya vaksin pneumonia juga diharapkan mampu mengurangi beban Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dikatakan dr Jane, biaya rawat inap anak akibat pneumonia jauh lebih tinggi daripada biaya vaksinasi.

Sebagai gambaran, satu dosis vaksin pneumonia oleh pemerintah memiliki harga Rp260 ribu. Satu anak membutuhkan tiga dosis vaksin untuk seumur hidup sehingga total biaya yang dibutuhkan kurang lebih Rp780 ribu. Harga ini masih jauh lebih murah daripada harga vaksin pneumonia di RS swasta yang bisa mencapai Rp800 ribu sampai Rp1 juta.

dr Darmawan, SpA dari RS Cipto Mangunkusumo mengatakan sosialisasi pneumonia kepada masyarakat sangat penting untuk mencegah penyakit ini menjadi epidemi. Menurutnya, kewaspadaan yang rendah membuat anak terinfeksi pneumonia telat mendapat perawatan dan baru dibawa ke rumah sakit saat sudah gawat.

"Imunisasi pneumonia sangat penting, dan harusnya penggunaan imunisasi ini akan mengurangi risiko anak terkena pneumonia. Namun peran serta masyarakat untuk benar-benar mengetahui gejala pneumonia yang terjadi pada orang-orang di lingkungannya, akan sangat membantu anak mendapatkan tindakan medis secepatnya," ungkap dokter yang juga aktif di UKK Respirologi IDAI ini.

Secara terpisah, dr Nurlaili Muzayyanah dari Jogja International Hospital mengatakan pneumonia tidak boleh diremehkan. Apalagi jika anak sudah mengidap batuk-pilek hingga lebih dari 2 minggu disertai dengan sesak napas.

"Batuk pilek sampai 2 minggu, lalu demam dan sesak napas adalah kondisi yang tidak boleh dianggap remeh. Itu adalah gejala awal pneumonia. Apabila dibiarkan, akan sangat berbahaya bagi nyawa sang balita," kata dr Nurlaili.

Baca juga: Sering Minum Antibiotik Saat Hamil, Anak Berisiko Gangguan Paru-paru


(mrs/vit)