"DPT itu kan difteri pertusis tetanus. P-nya atau pertusisnya itu bisa mengakibatkan komplikasi pneumonia dan anak meninggalnya biasanya karena pneumonia akibat pertusis. Ciri khasnya batuk panjang (rejan) dan sesak napas," tutur dr Nastiti Kaswandani SpA(K), Ketua UKK Respirologi PP IDAI.
Sementara, komplikasi campak yang bisa menyebabkan kematian yakni radang paru berupa pneumonia atau radang otak (encephalitis). Untuk itulah, kata dr Nastiti, campak termasuk vaksin yang harus diberikan pada anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Catat! Faktor-faktor yang Tingkatkan Risiko Anak Kena Pneumonia
Jika memang anak telat diimunisasi, misalnya di usia 9 bulan lebih belum divaksin campak, maka segera lakukan catch up. Terlebih, di atas usia 6 bulan anak sudah mulai aktif dan terpapar dengan dunia luar.
Selain imunisasi lengkap, upaya lain yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya pneumonia pada anak di antaranya pemberian ASI eksklusif, memenuhi kebutuhan nutrisi anak, menghindari polusi di dalam dan luar rumah, mencegah berat badan bayi lahir rendah, dan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat termasuk cuci tangan pakai sabun.
"Pemberian ASI eksklusif bisa menurunkan risiko anak terkena pneumonia sebesar 15 sampai 23 persen. Penggunaan kompor yang bersih dalam pengolahan makanan juga menurunkan risiko anak kena pneumonia sampai 50 persen," tambah dr Nastiti.
Baca juga: Soal Imunisasi pada Anak, Ini Hal-hal yang Perlu Diketahui Orang Tua (rdn/up)











































