Dikatakan Menteri Kesehatan RI, Prof Dr dr Nila Djuwita F Moeloek, SpM (K), masalah ini terjadi akibat kekurangan gizi sejak masa hamil. Ketika anak-anak lahir adalah anak-anak yang tinggi badannya tidak normal atau pendek.
"Mungkin pendek nggak apa-apa yang penting adalah otaknya jangan ikut-ikut pendek. Di sini sayangnya kalau stunting ini ikut otaknya, artinya IQ-nya tidak mencapai IQ normal," ujar Nila.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Meski Orang Tua Pendek, Anak Tidak Boleh Ikut-ikutan Pendek
Masalah lainnya disebutkan Nila adalah faktor budaya. Salah satu contoh di daerah perbatasan NTT, Silawan, di mana hampir 75 persen ibu tidak memberikan ASI pada anaknya. Terlebih pada ibu hamil, sebelum dan sesudah melahirkan mereka diasingkan dan tidak diberi makan, serta dipisahkan oleh bayinya sendiri.
"Jadi ada faktor budaya dalam hal ini menurut saya banyak hal yang memang terjadi di luar kemampuan di dunia kesehatan yang juga kita harus lakukan," kata Nila.
Pada kesempatan yang sama, disampaikan juga oleh Kadinkes Provinsi NTT dr Kornelis Kodi Mete, bahwa selain perilaku budaya masyarakat, keterbatasan bahan pangan di tengah masyarakat juga menjadi faktor anak-anak mengalami stunting
"Untuk mengatasi stunting tidak mungkin hari ini selesai. Oleh karena itu, dari segi kesehatan kita dorong supaya tenaga kesehatan itu bisa memberi penyuluhan dan pemahaman sembari kita harapkan ada ketersediaan bahan pangan," tutur Kornelis.
Baca juga: Kata Dokter, Begini Tanda Awal Anak Berisiko Tumbuh Pendek
(hrn/vit)











































