Tunda Punya Anak Demi Karir Berisiko Depresi Pasca Bersalin

Tunda Punya Anak Demi Karir Berisiko Depresi Pasca Bersalin

Vera Farah Bararah - detikHealth
Rabu, 21 Mar 2012 13:03 WIB
Tunda Punya Anak Demi Karir Berisiko Depresi Pasca Bersalin
(Foto: thinkstock)
Jakarta -

Beberapa perempuan kadang memilih menunda punya anak demi membentuk karir terlebih dahulu. Tapi sebaiknya dipikirkan lagi, karena menunda anak demi karir bisa tingkatkan risiko depresi pasca melahirkan.

Sebuah studi menunjukkan ibu yang mementingkan karir ada kemungkinan butuh persiapan lebih banyak untuk anak sulungnya dan jika sesuatu tidak berjalan seperti yang direncanakan, maka ia lebih mudah mengalami depresi setelah melahirkan (postpartum depression).

"Mungkin karena mereka terbiasa mengendalikan kehidupannya sendiri, mereka sudah menyelesaikan pendidikan panjang dan karir sebelum punya anak. Tapi seseorang tidak bisa mengendalikan bayi, jadi sebaiknya ia harus sangat fleksibel," ujar ketua riset Silje Marie Haga dari University of Oslo di Norwegia, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (21/3/2012).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Haga menuturkan beberapa perempuan yang ia wawancara mengungkapkan kondisi ini kadang memberikan perasaan kecewa yang besar ketika hal-hal tertentu tidak berjalan sesuai rencana atau keinginannya.

"Kegagalan dalam mencapai harapan tertentu ini bisa memicu depresi. Sebaliknya perempuan yang memiliki pendekatan lebih santai cenderung bisa mengatasi tantangan tak terduga saat menjadi ibu secara lebih baik," ujar Haga.

Selain itu perempuan yang mengejar karir terlebih dahulu umumnya melahirkan saat berusia di atas 30 tahun, sehingga cenderung melahirkan secara caesar. Serta kesulitan dalam menyusui juga bisa memicu depresi, padahal dibutuhkan dukungan dan emosional dari pasangan untuk menyukseskan pemberian ASI.

Saat ini sudah menjadi hal yang umum bahwa sekitar 3-4 hari setelah perempuan melahirkan akan mengalami postpartum blues yaitu sangat mudah menangis tanpa tahu alasannya. Kondisi ini bisa berlangsung hingga seminggu atau terus berlanjut yang memicu depresi.

Depresi setelah melahirkan ini menyerupai jenis lain dari depresi yang meliputi perasaan putus asa, kesedihan, kelelahan dan gangguan tidur. Jika tidak ditangani bisa mempengaruhi pola asuh yang diberikan untuk si bayi.

"Perempuan ini jadi tidak bisa menikmati punya bayi, ia jadi tertekan dan memiliki beban emosional yang lebih besar. Diharapkan ada program untuk mendukung perempuan selama fase sensitif ini untuk mencegah depresi postpartum," ujar Haga.

(ver/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads