Senin, 26 Nov 2012 11:37 WIB

Aman, Bercinta Saat Hamil Tak Bikin Kelahiran Lebih Cepat

- detikHealth
(Foto: Thinkstock) (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Saat sang istri sedang hamil besar, banyak pasangan yang enggan berhubungan seksual atau menahan diri untuk tidak berhubungan seksual terlebih dulu. Hal ini karena para pasangan takut aktivitas bercinta malah memicu persalinan.

Banyak wanita yang kadung percaya bahwa hubungan seksual dapat memicu kelahiran dan para pakar telah menunjukkan sejumlah penjelasan biologis yang masuk akal tentang hal ini.

Beberapa di antaranya adalah sperma mengandung senyawa seperti hormon yang disebut dengan prostaglandin. Senyawa ini biasanya digunakan dalam bentuk sintetis untuk memicu kelahiran. Selain itu, rangsangan pada payudara juga disebut mempercepat proses itu.

Belum lagi fakta yang mengatakan bahwa orgasme dapat memicu kontraksi rahim.

Lagipula tampaknya kepercayaan ini juga dipengaruhi oleh persepsi masyarakat yang dianut sejak lama bahwa hubungan seksual saat hamil bisa saja tidak aman dan dapat menyebabkan keguguran.

Padahal menurut sebuah studi dari Malaysia, hal ini salah besar. Sebab tak ada perbedaan waktu kelahiran antara wanita yang bercinta menjelang persalinan dan wanita yang tidak bercinta selama masa kehamilan.

"Kami cukup kecewa karena kami tidak menemukan kaitan apapun antara keduanya. Mungkin menyenangkan jika pasangan bisa melakukan sesuatu yang aman, efektif sekaligus menyenangkan agar mereka bisa melahirkan sedikit lebih cepat, jika mereka menginginkannya," ujar peneliti Dr. Tan Peng Chiong, seorang profesor di bidang obstetri dan ginekologi dari University of Malaya, Malaysia.

Selain itu, studi ini dilakukan Tan dan rekan-rekannya untuk mencari tahu apakah bercinta di minggu-minggu terakhir kehamilan dapat membantu seorang wanita untuk menghindari induksi atau stimulasi persalinan.

"Induksi persalinan untuk kehamilan yang berkepanjangan itu sebenarnya wajar namun banyak wanita yang tergoda oleh berbagai alasan personal untuk memicu kehamilan lebih cepat di tahap-tahap akhir kehamilannya," papar Tan seperti dilansir dari nbcnews, Senin (26/11/2012).

Untuk studi yang dipublikasikan dalam jurnal BJOG ini peneliti melibatkan lebih dari 1.100 wanita yang tengah memasuki usia kehamilan antara 35-38 minggu dan tak ada yang dilaporkan bercinta selama 6 minggu sebelumnya.

Separuh partisipan disarankan oleh dokternya untuk rutin bercinta sebagai sarana untuk mempercepat kelahiran. Sebagian lainnya diberitahu jika seks itu aman-aman saja dilakukan selama masa kehamilan tapi efeknya terhadap kelahiran tidak diketahui.

Lalu peneliti mengamati setiap partisipan selama beberapa waktu untuk menentukan seberapa lama usia kehamilan partisipan hingga melahirkan dan apakah mereka membutuhkan intervensi medis atau tidak ketika menjalani persalinan.

85 persen partisipan yang didorong untuk bercinta oleh dokternya terbukti melakukan saran itu sedangkan partisipan dari kelompok kedua hanya 80 persen yang mau bercinta.

Bahkan partisipan dari kelompok pertama dilaporkan tiga kali lebih sering bercinta di minggu-minggu akhir menjelang persalinannya, sedangkan kelompok kedua hanya dua kali lebih sering.

Namun ternyata tingkat induksinya tercatat hampir sama; 22 persen untuk kelompok pertama dan 20,8 persen untuk kelompok lainnya. Peneliti pun menduga kecilnya perbedaan ini mungkin hanyalah kebetulan saja. Masa kehamilan kedua kelompok pun rata-rata mencapai 39 minggu.

Hal itu berarti pasangan mau bercinta atau tidak selama masa kehamilan, terutama di minggu-minggu menjelang persalinan, takkan mengubah waktu persalinan atau menyebabkan persalinan lebih cepat dari perkiraan semula.




(nvt/nvt)