Persalinan yang Dipicu dengan Metode Ini Tingkatkan Risiko Autisme Bayi

Persalinan yang Dipicu dengan Metode Ini Tingkatkan Risiko Autisme Bayi

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kamis, 15 Agu 2013 12:16 WIB
Persalinan yang Dipicu dengan Metode Ini Tingkatkan Risiko Autisme Bayi
(Foto: Thinkstock)
Jakarta - Autisme merupakan gangguan perkembangan pada anak yang paling sering dikaitkan dengan faktor neurobiologi atau sesuatu yang terjadi saat si bayi masih dalam kandungan. Namun sebuah studi baru mengungkapkan bayi yang persalinannya diinduksi atau kontraksi ibunya diperkuat dengan hormon tertentu juga berisiko terkena autis.

Peneliti mengamati riwayat kelahiran lebih dari 625.000 anak yang lahir antara tahun 1990-1998 di North Carolina AS, termasuk 5.500 anak yang telah didiagnosis dengan autisme. Dari situ peneliti menemukan anak yang lahir dari ibu yang persalinannya diinduksi, diaugmentasi atau keduanya berisiko autis 27 persen lebih tinggi dibandingkan anak yang lahir dari ibu yang persalinannya normal.

Bahkan kaitan keduanya tetap konsisten meski peneliti telah mempertimbangkan faktor lain seperti usia ibu, diabetes selama masa kehamilan dan kelahiran prematur. Untuk itu peneliti menyarankan agar para wanita sebaiknya menghindari induksi atau augmentasi meski hal itu direkomendasikan oleh dokter mereka demi kesehatan sang ibu maupun janinnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Induksi persalinan adalah prosedur medis untuk merangsang kontraksi rahim sebelum persalinan itu terjadi dengan sendirinya. Dokter biasanya merekomendasikan hal ini ketika seorang wanita melewati masa persalinannya hingga satu-dua minggu atau ketika kesehatan sang ibu maupun calon bayinya berisiko jika kehamilan dilanjutkan.

Sebaliknya augmentasi persalinan merupakan prosedur mempercepat persalinan yang telah mulai berlangsung tapi kemajuannya terlalu lambat.

Sayangnya peneliti tak dapat menjelaskan apakah induksi atau augmentasi persalinanlah yang berkaitan dengan autisme, atau bahkan obat-obatan yang digunakan dalam kedua metode ini. Malahan peneliti menduga kondisi medis tertentu yang terjadi selama masa kehamilan yang menyebabkan diperlukannya induksi atau augmentasi persalinanlah yang berkaitan dengan autisme.

Dalam hal ini peneliti menuding paparan hormon oksitosin yang digunakan untuk induksi persalinan yang ditengarai dapat menjelaskan kaitan antara induksi ini dengan risiko autisme pada anak. Diperkirakan 50-70 persen wanita yang mengalami induksi persalinan menerima terapi oksitosin. Padahal oksitosin diketahui dapat mempengaruhi sistem saraf si bayi, meski peneliti mengemukakan gagasan ini tampaknya perlu studi lebih mendalam.

Lewat riset yang sama peneliti juga menemukan anak-anak yang lahir dari ibu yang persalinannya diinduksi (tapi tidak diaugmentasi) berisiko 13 persen lebih tinggi untuk terkena autisme, sedangkan yang diaugmentasi berisiko 16 persen lebih tinggi.

Namun menurut peneliti kondisi ini paling sering terlihat pada bayi laki-laki. Sebab anak laki-laki yang terlahir dari ibu yang menerima induksi dan augmentasi persalinan berisiko 35 persen lebih tinggi untuk mengidap autisme.

Studi ini juga memastikan kaitan antara autisme dengan faktor risiko lainnya seperti kelahiran prematur dan diabetes pada si ibu. Jadi anak yang lahir sebelum usia kehamilan ibunya memasuki 34 minggu berpeluang 25 persen lebih tinggi untuk mengidap autisme dibandingkan anak-anak yang lahir tepat waktu.

Ibu-ibu pengidap diabetes, entah itu diabetes gestasional dan sudah menderita diabetes sejak sebelum hamil, berisiko 23 persen lebih tinggi untuk memiliki anak autis daripada ibu-ibu yang tidak diabetes.

"Tapi studi kami menggunakan database yang kurang lengkap seperti tak adanya informasi tentang faktor risiko lainnya yang memungkinkan terjadinya autisme. Kami juga tak mempertimbangkan faktor usia si ayah, obat-obatan yang pernah dikonsumsi si ibu atau tingkat keparahan autisme si anak," tutup peneliti Simon Gregory, profesor ilmu kedokteran dari Duke University, Durham, N.C. seperti dilansir Livescience, Kamis (14/8/2013).



(vit/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads