Bagi pasangan suami istri yang kesulitan untuk memperoleh keturunan, prosedur bayi tabung bisa menjadi salah satu cara untuk menimang buah hati. Sayang, tingkat keberhasilannya belum cukup besar dan sering terjadi kegagalan.
Bayi tabung atau yang biasa dikenal dengan In Vitro Fertilization (IVF) adalah proses pembuahan dibantu dengan teknik rekayasa oleh manusia dengan cara menggabungkan sel telur dan sel sperma dalam suatu kultur yang dilakukan dalam laboratorium embryologi.
Pada prinsipnya keberhasilan program bayi tabung sekitar 40-50%, tetapi hal ini akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Pada wanita di bawah 30 tahun peluangnya bisa mencapai 50%, sedangkan usia 30-35 tahun peluangnya 35%, usia 40 tahun keberhasilan program bayi tabung menjadi sekitar 10-15%, sementara di atas usia 40 tahun peluangnya tinggal 8%.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Ivan menyebutkan beberapa faktor penyebab gagalnya prosedur bayi tabung, antara lain:
1. Kualitas embrio yang tidak bagus karena pengaruh kromosom
2. Usia wanita di atas 35 tahun
3. Adanya kista, polip atau mioma
4. Adanya infeksi rongga panggul
5. Kelainan kekentalan darah.
Dalam pembuatan bayi tabung, sel telur dan sperma di pertemukan dalam sebuah cawan. Sel telur diletakkan dicawan kemudian disemprot sperma lalu cawan dimasukkan dalam inkubator yang mempunyai suhu dan kelembaban seperti di dalam rahim.
Baru kemudian pembuahan berupa embrio akan terjadi setelah disimpan 2-3 hari. Embrio itu selanjutnya dipindahkan ke rahim ibu melalui vagina sebanyak 3-4 embrio.
Dalam proses penanaman embrio inilah yang kerap terjadi kegagalan karena penanaman embrio di rahim tergantung kemampuan rahim menangkap embrio. Komunikasi embrio dengan rahim kadang tidak berjalan karena berbagai faktor, salah satunya ada infeksi atau mioma uteri, polip dan kista. (/)











































