Minggu, 26 Apr 2015 16:01 WIB

Mengukur Suhu Basal Tubuh Bisa Bantu Mengetahui Masa Subur Wanita

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Peluang kehamilan memang dipengaruhi pihak suami dan istri. Khusunya bagi kaum hawa, pergeseran hormon selama siklus menstruasi juga berpengaruh pada kesuburannya. Nah, salah satu cara untuk mengetahui pergeseran hormon wanita yang berkaitan dengan masa suburnya yakni dengan mengukur basal body temperature (BBT).

Basal body temperature atau suhu tubuh basal adalah suhu tubuh pertama seseorang di pagi hari dan pada wanita dapat menunjukkan pergeseran hormon dalam tubuh selama siklus menstruasi. Penulis buku 'Taking Charge of Your Fertility', Toni Weschler, MPH, BBT bisa diukur setelah bangun tidur sebelum ingin buang air kecil.

"Anda dapat mencatatnya di beberapa aplikasi atau yang sederhana gunakan pulpen dan kertas. Suhu basal berkisar 37-37,7 celcius sebelum ovulasi dan lebih dari 37,8 sesudah ovulasi. Wanita yang berovulasi akan mengalami dua tingkat suhu, rendah dalam waktu beberapa lama kemudian meningkat setelahnya," tutur Weschler.

Kenaikan hormon progesteron setelah masa ovulasi, lanjut Weschler, menyebabkan suhu basal melonjak. Ketika wanita haid, kadar progesteron dan suhu basalnya pun menurun. Sebaliknya, ketika sedang hamil, suhu basal kembali naik. Nah, setelah beberapa bulan mencatat data BBT, wanita seharusnya melihat pola umum BBT di mana awalnya rendah kemudian naik.

Baca juga: Seperti Apa Sih Sel Telur yang Baik dan Berkualitas?

"Tetapi jika kurvanya stagnan, suhu Anda tidak pernah naik, atau Anda memiliki kurang dari 10 suhu yang tinggi setelah haid, karena memang hal ini berkaitan dengan kadar progesteron yang rendah, sebaiknya periksalah ke dokter," lanjut Welsch, dikutip dari Fit Pregnancy, Minggu (26/4/2015).

Sebab, wanita yang tidak berovulasi biasanya hanya memiliki satu tingkatan rata-rata suhu basal selama siklus haid mereka. Weschler mengatakan, anovulatori atau siklus haid tidak teratur bisa disebabkan beberapa masalah seperti hormon prolaktin berlebih, endometriosis, atau polycystic ovarian syndrome (PCOS). Weschler menekankan semakin dini masalah pada sistem reproduksi terdeteksi, maka semakin cepat penyembuhannya.

Otomatis, peluang kehamilan pun bisa kembali normal. Walaupun begitu, menurut Welsh tetap penting memperhatikan faktor lain yang berpengaruh pada peluang kehamilan. Misalnya saja, tingkat kesuburan suami atau keadaan tuba falopi. "Tetapi mengetahui bagimana tubuh Anda tetap penting sebagai langkah awal membuka peluang kehamilan," kata Weschler.

Baca juga: Karena Gaya Hidup, Makin Banyak Masalah Infertilitas pada Pria

(Radian Nyi Sukmasari/AN Uyung Pramudiarja)