RSUP Dr Sardjito Unggulkan Layanan Bayi Tabung, Seperti Apa Layanannya?

RSUP Dr Sardjito Unggulkan Layanan Bayi Tabung, Seperti Apa Layanannya?

Rahma Lilahi Sativa - detikHealth
Jumat, 22 Mei 2015 11:36 WIB
RSUP Dr Sardjito Unggulkan Layanan Bayi Tabung, Seperti Apa Layanannya?
Foto: Lila/detikHealth
Yogyakarta - Tiap pasangan pasti ingin memiliki buah hati untuk melengkapi keluarga mereka. Namun ada kalanya pasangan dihadapkan pada kenyataan bahwa memiliki keturunan bukanlah perkara yang mudah, dan upaya ekstra harus dilakukan.

Tantangan ini dijawab RSUP Dr Sardjito lewat klinik infertilitas Permata Hati. "Untuk rumah sakit umum pemerintah, memang tinggal kami yang masih aktif," ungkap Kepala Bagian Humas dan Hukum RSUP Dr Sardjito, Trisno Heru Nugroho.

Menurutnya, hal ini bisa dikaitkan dengan banyak faktor, seperti pelaksanaan prosedur IVF (in vitro fertilization atau bayi tabung) yang rumit dan besarnya dana yang dibutuhkan.

"(Metodenya) Kita mengikuti dunia kok, Mbak. Apa yang dipakai di luar negeri kita juga udah pakai," terang Safa'atun Hatimah, AMK, salah satu perawat di Klinik Permata Hati kepada detikHealth dalam kesempatan terpisah, dan ditulis Kamis (21/5/2015).

Di antaranya teknologi Invitro Maturation (IVM), Simpan Beku Embrio, termasuk Pre Implantation Genetic Screening (PGS). Pada teknologi Simpan Beku Embrio, pasutri bisa memiliki anak kembar yang lahir di tahun berbeda, sedangkan dengan PGS, dokter dapat meningkatkan keberhasilan bayi tabung karena ini merupakan teknologi untuk melihat kualitas kromosom dari embrio yang akan ditanam.

Safa memastikan prosedur bayi tabung yang dilakukan di Indonesia memang harus menggunakan 'bahan dasar' dari pasutri, berbeda dengan yang selama ini dilakukan di luar negeri. "Kan nggak boleh ada donor sperma, oozit, embrio, atau rahim, jadi harus kita periksa dulu dua-duanya, kita lihat masalahnya di mana," jelasnya.

Untuk itu sebelum melakukan prosedur bayi tabung, pasutri harus menjalani pemeriksaan dasar terlebih dahulu, antara lain pemeriksaan hormon, saluran telur (HSG), dan deteksi ovulasi (USG) untuk istri, serta analisa sperma, mulai dari yang sederhana hingga mendetail dengan GFC, untuk suami.

"Menstruasi saja tidak menjamin seseorang bisa hamil. Kalau yang tidak bisa menstruasi, ya kita buat bisa haid dulu, diperbaiki dulu siklusnya. Kalau ada tumor, miom, kista harus diselesaikan dengan laparoskopi. Suami juga kalau spermanya kurang atau ada masalah kita ada tim andrologi yang menyelesaikannya," lanjutnya.

Safa menambahkan di klinik tempatnya bekerja, masalah terbesar yang paling banyak dialami pasutri mandul adalah infeksi dan endometriosis (istri) serta kuantitas sperma yang rendah maupun gangguan pada bentuk dan gerakan sperma (suami).

Baca juga: Pria-pria Azoospermia, Punya Air Mani Tapi Tak Ada Sperma

Namun Safa mengakui tingkat keberhasilan bayi tabung yang dilakukan Klinik Permata Hati baru sebatas 30-35 persen. "Kalau di luar negeri bisa sampai 40-45 persen, karena mereka kan bisa sperma donor, sel telur donor, embrio donor, rahimnya jelek juga bisa surrogacy. Kita kan semua dari pasutri, apa adanya mereka kita kelola," paparnya.

Kendati begitu, sejak berdiri pada tahun 1995, Klinik Permata Hati dikatakan Safa telah membantu puluhan bahkan mungkin ratusan pasangan yang tak bisa mendapatkan keturunan secara alami. "Wah banyak banget, Mbak. Bayinya aja udah 150, data terakhir 2014," imbuhnya.

Bahkan Klinik Permata Hati pernah menangani pasutri dari sejumlah daerah di luar Pulau Jawa hingga dari luar negeri seperti Perancis.

Berminat? Untuk program bayi tabung di RSUP Dr Sardjito, biaya yang dipatok mencapai Rp 50-60 juta, belum termasuk pembiayaan untuk pemeriksaan dan prosedur lain yang dibutuhkan sebelum pasutri siap menjalani bayi tabung.

Baca juga: Menunggu 5,5 Tahun untuk Punya Anak, Ibu di Yogya Akhirnya Lahirkan Kembar 4

(Rahma Lilahi Sativa/Nurvita Indarini)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads