Anak berusia 11 tahun tersebut dikatakan oleh dokter di rumah sakit (RS) Reina Sofia melahirkan bayi perempuan seberat 3,5 kg lewat bedah caesar. Sang anak yang kini telah jadi ibu dilaporkan kondisinya stabil.
"Si ibu sedang memulihkan diri pasca operasi," kata salah satu petugas medis, dr Mario Villalba kepada radio lokal dan dikutip dari BBC pada Jumat (14/8/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Dampak Perkawinan Dini, Anak Indonesia Pendek-pendek dan Kurang Gizi
Hanya saja lembaga Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyayangkan keputusan menteri kesehatan yang menolak permohonan aborsi sang anak Mei lalu. Ketika itu keputusan diambil dengan alasan aborsi tak perlu dilakukan karena tak membahayakan nyawa.
Para ahli HAM di PBB menilai Paraguay telah gagal melindungi anak. Amnesty International mengatakan bahwa pemerintah memaksa anak untuk melahirkan dan menjadi ibu.
Kondisi hamil muda di Paraguay sendiri tak jarang terjadi. dr Mario mengatakan di tempat praktiknya saja ada dua remaja berumur 12 tahun sedang menunggu untuk melahirkan.
"Mereka semua sedang berjuang. Anda harus investasi pendidikan, tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali itu," ujar dr Mario.
World Health Organization (WHO) mengatakan kehamilan dini di bawah 15 tahun adalah penyabab utama tingginya angka kematian ibu akibat komplikasi di negara-negara berkembang.
Baca juga: Kisah Hadiqa, Gadis 14 Tahun yang Berjuang Berantas Pernikahan Dini
(fds/vit)











































