Anak 11 Tahun Melahirkan Picu Perdebatan Aborsi di Paraguay

Anak 11 Tahun Melahirkan Picu Perdebatan Aborsi di Paraguay

Firdaus Anwar - detikHealth
Jumat, 14 Agu 2015 18:48 WIB
Anak 11 Tahun Melahirkan Picu Perdebatan Aborsi di Paraguay
Foto: thinkstock
Asuncion - Seorang anak korban pemerkosaan di Paraguay baru-baru ini telah melahirkan. Hal ini memicu perdebatan setelah sebelumnya permohonan untuk aborsinya ditolak.

Anak berusia 11 tahun tersebut dikatakan oleh dokter di rumah sakit (RS)  Reina Sofia melahirkan bayi perempuan seberat 3,5 kg lewat bedah caesar. Sang anak yang kini telah jadi ibu dilaporkan kondisinya stabil.

"Si ibu sedang memulihkan diri pasca operasi," kata salah satu petugas medis, dr Mario Villalba kepada radio lokal dan dikutip dari BBC pada Jumat (14/8/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihak berwenang mengatakan kehamilan anak tersebut karena ia diperkosa oleh ayah tirinya sendiri. Saat ini sang ayah yang berumur 42 tahun telah dipenjara menunggu keputusan pengadilan. Ibu dari anak itu juga tak luput dikenai hukuman karena dianggap lalai.

Baca juga: Dampak Perkawinan Dini, Anak Indonesia Pendek-pendek dan Kurang Gizi

Hanya saja lembaga Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyayangkan keputusan menteri kesehatan yang menolak permohonan aborsi sang anak Mei lalu. Ketika itu keputusan diambil dengan alasan aborsi tak perlu dilakukan karena tak membahayakan nyawa.

Para ahli HAM di PBB menilai Paraguay telah gagal melindungi anak. Amnesty International mengatakan bahwa pemerintah memaksa anak untuk melahirkan dan menjadi ibu.

Kondisi hamil muda di Paraguay sendiri tak jarang terjadi. dr Mario mengatakan di tempat praktiknya saja ada dua remaja berumur 12 tahun sedang menunggu untuk melahirkan.

"Mereka semua sedang berjuang. Anda harus investasi pendidikan, tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali itu," ujar dr Mario.

World Health Organization (WHO) mengatakan kehamilan dini di bawah 15 tahun adalah penyabab utama tingginya angka kematian ibu akibat komplikasi di negara-negara berkembang.

Baca juga: Kisah Hadiqa, Gadis 14 Tahun yang Berjuang Berantas Pernikahan Dini

(fds/vit)

Berita Terkait