Dua fenomena tersebut kini makin sering terjadi dan peneliti dunia mencoba melihat dampaknya terhadap kesehatan manusia dalam jangka panjang. Seperti yang dilakukan oleh peneliti dari The World Bank di Amerika Serikat dan Institute for the Study of Labour di Jerman dengan melihat data dari 1,5 juta kelahiran sepanjang tahun 1999-2008.
dr Mabel Andalon dari Institute for the Study of Labour mengatakan studi berhasil menemukan bukti adanya pengaruh suhu ekstrem terhadap kelahiran bayi. Paparan suhu yang tinggi setidaknya bisa berujung pada pengurangan berat lahir sekitar tiga gram dan sedikit peningkatan risiko prematur, sementara suhu dingin bisa mengurangi panjang bayi sekitar 0,0018 sentimeter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suhu ekstrem baik panas atau dingin disebut juga oleh peneliti mengurangi nilai Agpar. Nilai tersebut diberikan untuk memonitor kondisi kesehatan bayi mulai dari detak jantung, refleks, bentuk otot, dan pernapasan lima menit setelah kelahiran.
"Kejutan temperatur yang sebelumnya sering diabaikan dalam literatur bisa memengaruhi kesehatan bayi saat lahir. Kami menemukan ekspos sedang terhadap suhu rendah pada rahim memengaruhi tinggi bayi. Selain itu kami juga menemukan penurunan berat bayi dengan ekspos suhu tinggi pada trimester ketiga kehamilan," kata Andalon seperti dikutip dari Telegraph pada Selasa (1/3/2016).
Mengapa hal ini bisa terjadi diyakini peneliti dalam laporannya di jurnal World Development kemungkinan karena stres tambahan yang dialami oleh ibu ketika hamil. Di luar hal tersebut mungkin juga karena suhu ekstrem membuat ketersediaan makanan berkurang sehingga berujung pada malnutrisi.
Baca juga: Tidur di Salju karena Mabuk, Wanita Ini Hipotermia dan Tangannya Melepuh (fds/up)










































