Mutasi genetik yang dimaksud adalah mutasi pada gen BRCA1 yang telah lama dikaitkan dengan risiko kanker payudara. Namun temuan terbaru menunjukkan pemilik mutasi ini juga sulit mendapatkan keturunan.
Berbeda dengan pria yang bisa memproduksi sel sperma hingga usia tua, wanita terlahir dengan sel telur dalam jumlah tertentu. Dan seiring dengan pertambahan usianya, sel telur ini lama-lama akan habis. Sayangnya keberadaan mutasi genetik ini memperburuk keadaan mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa bisa begitu? Menurut hasil penelitian yang dilakukan Peter MacCallum Cancer Centre, East Melbourne, wanita yang mengalami mutasi pada gen BRCA1 juga ketahuan memiliki hormon AMH (Anti-Mullerian Hormone) yang lebih rendah dari wanita yang tidak mengalami mutasi genetik.
Hormon AMH merupakan hormon yang sering dijadikan patokan tingkat kesuburan seorang wanita. Akan tetapi ketika peneliti mengamati kadar hormon AMH pada 693 wanita berusia 25-45 tahun yang terlibat dalam studi ini karena riwayat kanker dalam keluarganya ditemukan bahwa mutasi pada gen BRCA1 terkait dengan penurunan konsentrasi hormon AMH rata-rata sebanyak 25 persen.
"Ini berarti mereka yang berusia 30-an dan mengalami mutasi pada agen BRCA1 memiliki cadangan sel telur yang sama banyaknya dengan bukan carrier tapi yang usianya dua tahun lebih tua," jelas ketua tim peneliti, Prof Kelly-Anne Phillips seperti dilaporkan Mirror.
Phillips menduga ini karena peranan gen BRCA1 yang penting dalam proses perbaikan DNA. Otomatis jika gen ini mengalami mutasi, maka proses itu menjadi terganggu dan salah satunya berakibat pada penuaan sel-sel telur seorang wanita dan menurunkan tingkat kesuburannya.
Baca juga: Cek Risiko Kanker Payudara dengan Skrining BRCA, Apa Itu?
Namun Phillips meyakinkan ini bukan harga mati, sebab hormon AMH bukanlah satu-satunya indikator kesuburan seorang wanita. Hanya saja kemungkinan untuk sulit mendapatkan keturunan karena hormon ini bisa saja terjadi kapanpun.
"Makanya kami sarankan bagi mereka yang membawa mutasi gen BRCA1 agar tidak menunda-nunda kehamilan, apalagi sampai usia 30-an atau 40-an di mana kesuburan mereka sudah banyak berkurang gara-gara usia," pungkasnya. (lll/vit)











































