Waspada! Ini 4 Efek Negatif Penggunaan Ganja Saat Hamil

Waspada! Ini 4 Efek Negatif Penggunaan Ganja Saat Hamil

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Selasa, 14 Feb 2017 14:35 WIB
Waspada! Ini 4 Efek Negatif Penggunaan Ganja Saat Hamil
Foto: thinkstock
Jakarta - Beredarnya ganja medis di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa memunculkan kontroversi baru. Survei menyebut penggunaan ganja oleh ibu hamil meningkat karena diklaim dapat meredakan gejala morning sickness.

Penggunaan ganja oleh ibu hamil naik dari sebelumnya 2,4 persen pada tahun 2002 menjadi menjadi 4 persen pada 2014. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa ganja lebih aman daripada tembakau dan alkohol, sehingga efeknya kepada ibu hamil dan janin pun lebih sedikit.

"Padahal anggapan ini tidak terbukti. Belum ada penelitian yang membuktikan bahwa ganja benar-benar aman dikonsumsi oleh ibu hamil hingga saat ini," tutur Dr Torri Metz, pakar kandungan berisiko tinggi dari Denver Health Medical Center, dikutip dari NY Times.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Studi: Ibu Merokok Saat Hamil, Risiko Anak Alami Kerusakan Ginjal Meningkat

Di sisi lain, efek negatif penggunaan ganja oleh ibu hamil sudah dibuktikan melalui beberapa penelitian. Apa saja?

1. Sulit berprestasi di sekolah

Foto: ilustrasi/thinkstock
Penelitian pada anak di Amerika Serikat menyebut anak yang lahir dari ibu pengguna ganja lebih sulit belajar membaca dan mendengar. Mereka juga lebih implusif dan sulit konsentrasi di sekolah.

Saat berusia 14 tahun, mereka juga memiliki skor pelajaran yang lebih rendah di bidang membaca, matematika dan menulis dibandingkan anak-anak lain seusiaya.

2. Moody dan temperamen buruk

Foto: Thinkstock
Dr Yasmin Hurd, pakar neurosains dari Icahn School of Medicine mengatakan penggunaan ganja oleh ibu saat hamil dapat memengaruhi proses terbentuknya otak janin di usia 18 hingga 22 minggu kehamilan. Perubahan terjadi di bagian amygdala, bagian otak yang mengatur emosi dan perilaku.

Anak menjadi lebih moody, berperilaku kasar dan memiliki temperamen yang buruk. Mereka juga kesulitan mengekspresikan emosi positif dan negatif dengan baik kepada teman sebaya.

"Hal ini dikarenakan tetrahydrocannabinol yang ada pada ganja memengaruhi sirkuit pengiriman dan penerimaan saraf yang berhubungan dengan emosi," paparnya.

3. Berat badan lahir rendah

Foto: ilustrasi/thinkstock
Dr Marie McCormick dari National Academies of Sciences, Engineering and Medicine mengatakan efek ganja pada janin tidak hanya terjadi di jaringan otak dan saraf. Janin juga mengalami perubahan di struktur metabolisme.

"Efeknya sama saja dengan merokok. Ibu hamil yang mengisap ganja berisiko membuat anaknya lahir dengan berat badan rendah dan risiko kecacatan yang tinggi," paparnya.

4. Sering sakit

Foto: thinkstock
Dr Diana Racusin dari Baylor College of Medicine, Houston, menyebut 2 sampai 11 persen ibu hamil di Amerika Serikat mengisap ganja. Di antara mereka juga ada yang merokok tembakau meskipun kedua hal ini sangat dilarang oleh pakar kehamilan dan kandungan.

Hasil penelitian menyebut partisipan yang merokok dan mengisap ganja berisiki 2 kali lipat mengidap asma, 2,5 kali lipat melahirkan secara prematur serta 3 kali lipat memiliki bayi dengan kepala kecil dan berat badan lahir rendah.

Tak hanya itu, ibu hamil yang merokok maupun mengisap ganja juga berisiko tinggi mengalami tekanan darah tinggi, diabetes, depresi, gangguan kecemasan serta hipertensi. Hal-hal ini meningkatkan risiko ibu mengalami perdarahan saat melahirkan yang bisa menyebabkan kematian.
Halaman 2 dari 5
Penelitian pada anak di Amerika Serikat menyebut anak yang lahir dari ibu pengguna ganja lebih sulit belajar membaca dan mendengar. Mereka juga lebih implusif dan sulit konsentrasi di sekolah.

Saat berusia 14 tahun, mereka juga memiliki skor pelajaran yang lebih rendah di bidang membaca, matematika dan menulis dibandingkan anak-anak lain seusiaya.

Dr Yasmin Hurd, pakar neurosains dari Icahn School of Medicine mengatakan penggunaan ganja oleh ibu saat hamil dapat memengaruhi proses terbentuknya otak janin di usia 18 hingga 22 minggu kehamilan. Perubahan terjadi di bagian amygdala, bagian otak yang mengatur emosi dan perilaku.

Anak menjadi lebih moody, berperilaku kasar dan memiliki temperamen yang buruk. Mereka juga kesulitan mengekspresikan emosi positif dan negatif dengan baik kepada teman sebaya.

"Hal ini dikarenakan tetrahydrocannabinol yang ada pada ganja memengaruhi sirkuit pengiriman dan penerimaan saraf yang berhubungan dengan emosi," paparnya.

Dr Marie McCormick dari National Academies of Sciences, Engineering and Medicine mengatakan efek ganja pada janin tidak hanya terjadi di jaringan otak dan saraf. Janin juga mengalami perubahan di struktur metabolisme.

"Efeknya sama saja dengan merokok. Ibu hamil yang mengisap ganja berisiko membuat anaknya lahir dengan berat badan rendah dan risiko kecacatan yang tinggi," paparnya.

Dr Diana Racusin dari Baylor College of Medicine, Houston, menyebut 2 sampai 11 persen ibu hamil di Amerika Serikat mengisap ganja. Di antara mereka juga ada yang merokok tembakau meskipun kedua hal ini sangat dilarang oleh pakar kehamilan dan kandungan.

Hasil penelitian menyebut partisipan yang merokok dan mengisap ganja berisiki 2 kali lipat mengidap asma, 2,5 kali lipat melahirkan secara prematur serta 3 kali lipat memiliki bayi dengan kepala kecil dan berat badan lahir rendah.

Tak hanya itu, ibu hamil yang merokok maupun mengisap ganja juga berisiko tinggi mengalami tekanan darah tinggi, diabetes, depresi, gangguan kecemasan serta hipertensi. Hal-hal ini meningkatkan risiko ibu mengalami perdarahan saat melahirkan yang bisa menyebabkan kematian.

(mrs/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads