ADVERTISEMENT

Minggu, 05 Mar 2017 12:01 WIB

Cacat Lahir 20 Kali Lebih Tinggi pada Ibu Hamil yang Kena Zika

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Reuters
Jakarta - Februari lalu, WHO atau Badan Kesehatan Dunia menyatakan angka kasus infeksi virus Zika di Amerika Selatan telah menurun drastis. Tetapi bukan berarti kita berhenti untuk waspada.

Pada kenyataannya, laporan terbaru yang dikeluarkan Centers for Disease Control and Prevention mengungkapkan, proporsi cacat lahir yang berkaitan dengan Zika di sepanjang tahun 2016 tercatat 20 kali lebih tinggi dibandingkan sebelum wabah Zika muncul.

Secara khusus, peneliti menyoroti angka kasus kecacatan otak atau mikrosefali, di mana jumlahnya 33 kali lebih banyak daripada ketika sebelum adanya infeksi Zika.

Menariknya, yang dimaksud peneliti di sini bukanlah kenaikan kasus di Amerika Selatan, melainkan di AS. Untuk menghitung adanya insidensi cacat lahir sebelum dan setelah adanya virus Zika di AS, peneliti CDC menggunakan data di Massachusetts, Carolina Utara dan Atlanta.

Data yang dipergunakan adalah data tahun 2013-2014 dibandingkan dengan rekam data US Zika Pregnancy Registry dari tahun 2016.

Cacat lahir terlihat pada 3 dari tiap 1.000 kelahiran sepanjang tahun 2013-2014. Namun begitu adanya infeksi Zika, perbandingannya mencapai 60 kasus dari tiap 1.000 kelahiran di mana ibunya dinyatakan positif terkena infeksi Zika.

Jenis cacat lahir yang paling banyak dilaporkan adalah mikrosefali, diikuti oleh cacat tabung saraf, yaitu cacat lahir serius pada otak dan tulang belakang seperti anencephaly (perkembangan otak dan/atau tengkorak yang tidak sempurna) dan spina bifida (saraf tulang belakang tidak menutup sempurna).

Tak hanya itu, peneliti juga mencatat adanya jumlah kasus keguguran yang mencapai 48 persen dan kelahiran prematur (66 persen), utamanya pada janin yang terserang cacat tabung saraf.

Baca juga: Kasus Zika di Amerika Selatan Turun, WHO Imbau Masyarakat Tetap Waspada

"Untuk itu, ini bisa jadi pengingat betapa pentingnya mencegah infeksi virus Zika selama kehamilan berlangsung," tutur ahli epidemiologi dan kepala divisi cacat lahir di CDC, Peggy Honein seperti dilaporkan CNN.

Data lain menunjukkan bahwa risiko tertinggi cacat lahir seperti ini muncul jika infeksi terjadi di trimester pertama atau awal trimester kedua. "Tetapi menurut kami, tak ada periode yang aman bagi kehamilan jika sudah terlanjur terpapar infeksi Zika," imbuhnya.

Anjuran untuk ibu hamil agar tidak bepergian ke area di mana terjadi persebaran virus Zika serta menghindari kontak seksual dengan pasangan yang baru saja bepergian ke daerah dengan transmisi virus Zika juga tidak dapat dianggap sepele lagi.

Baca juga: Dampak Lain Virus Zika: Bisa Mengecilkan Testis Pria (lll/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT