Salah satu contohnya adalah ucapan "Saya Tahu Saya Benar". Seseorang dapat berpura-pura percaya diri karena menganggap pendapat yang disampaikan dengan paling lantang akan lebih mudah dipercaya. Bahkan ketika pernyataannya keliru, sikap yang terlalu vokal dapat membuat orang lain terdistraksi sehingga tidak langsung menyadari kekeliruannya.
Sementara itu, ucapan "Kamu yang Salah" lebih berkaitan dengan kemampuan memahami dan mengelola emosi. Seseorang yang terus-menerus menganggap dirinya benar dan selalu menyalahkan orang lain mungkin menunjukkan kesulitan mengendalikan ego. Alih-alih melihat fakta atau sudut pandang lain, mereka dapat bersikap defensif dan mempertahankan pandangan yang paling sesuai dengan dirinya.
ucapan orang dengan kecerdasan rendah Foto: Suci Risanti Rahmadania/detikHealth |
"Orang dengan EQ rendah sering kali akan memperdebatkan suatu poin sampai mati sambil menolak mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan jika Anda memberi mereka bukti bahwa mereka salah, mereka akan membantah fakta yang Anda berikan," kata seorang spesialis rehabilitasi psikososial, Kendra Cherry, MSEd, dikutip YourTango, Jumat (2/10/2026).
Ucapan "Aku Sudah Tahu Semua yang Perlu Diketahui" juga kerap dikaitkan dengan kecenderungan seseorang melebih-lebihkan kemampuan dan pengetahuannya sendiri. Fenomena psikologis yang sering dikaitkan dengan hal tersebut adalah Dunning-Kruger effect, yakni bias kognitif yang dapat membuat seseorang kesulitan menilai kemampuan dirinya secara akurat.
Kemudian, ada ucapan "Jangan Terlalu Sensitif" yang dapat menunjukkan kecenderungan mengabaikan atau meremehkan perasaan orang lain. Dalam konteks kecerdasan emosional, sikap tersebut dapat menjadi tanda seseorang mengalami kesulitan memahami atau memproses emosi yang kompleks.
Terakhir, ucapan "Itu Tidak Pernah Terjadi pada Saya" dapat mencerminkan kecenderungan menjadikan pengalaman pribadi sebagai tolok ukur untuk menentukan apa yang benar dan salah. Seseorang dapat menjadi kurang terbuka terhadap pengalaman atau sudut pandang orang lain karena tidak pernah mengalami hal serupa.
Meski demikian, satu atau dua ucapan saja tidak dapat digunakan untuk menentukan tingkat kecerdasan seseorang. Konteks percakapan dan pola perilaku secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.
(suc/suc)

