Jumat, 21 Des 2018 07:40 WIB

Karyawan Malas Jalan Kaki Kena Sanksi, Adakah Insentif Buat yang Bugar?

Kireina S. Cahyani - detikHealth
Aktif bergerak bisa memberikan hadiah kesehatan tubuh. (Foto: Istock)
Jakarta - Salah satu upaya yang dilakukan sebuah perusahaan di China menyita banyak perhatian. Dikutip dari BBCNews, perusahaan tersebut berupaya menetapkan denda untuk para pekerjanya yang tidak memenuhi peraturan untuk berjalan 6.000 langkah setiap harinya.

Meski banyak yang menilai kurang wajar, upaya yang dilakukannya ini semata-mata untuk menjaga kualitas kesehatan para pekerjanya. Untuk meningkatkan produktivitas kerja ini tentu harus memiliki sumber daya manusia yang sehat dan bugar.

Lalu upaya apakah yang dilakukan Indonesia agar para pekerjanya memiliki kualitas kesehatan yang baik?

Menurut Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga (Kesjaor), drg Kartini Rustandi, M.Kes, untuk menerapkan hal semacam ini di Indonesia, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kondisi sarana yang disediakan di setiap perusahaan.

"Adanya ruang, fasilitas yang memadai, dan waktu yang disediakan juga menjadi hal yang penting untuk menjaga kualitas kesehatan para pekerja di Indonesia,"
tutur drg Kartini saat diwawancarai detikHealth, di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kamis, (20/12/2018).



drg Kartini mengatakan bahwa salah satu program Kemenkes RI untuk menjaga kualitas kesehatan dan kebugaran tubuh seseorang ialah dengan mendorong para pekerja ini untuk aktif bergerak meski di dalam kantor sekalipun. Menurutnya, 'hadiah' atau insentif yang langsung bisa didapat adalah kesehatan.

"Sehat adalah reward dari Tuhan yang harus dijaga dan dipelihara. Ingat ucapan Nafsiah, Menteri Kesehatan terdahulu, bahwa sehat adalah hartaku yang harus kujaga dan kupelihara," jelas drg Kartini.

Direktur Kesjaor ini juga memaparkan bahwa Menkes saat ini, Nila Moeloek, memang pernah memberikan reward untuk sosok yang paling bugar. Namun tujuan utama untuk aktif bergerak dan berolahraga yang sebenarnya bukanlah itu, melainkan untuk diri sendiri. Karena sehat ini memang tak ternilai harganya. Bayangkan bila sedang sakit, banyak hal dan kesempatan yang bisa saja terlewatkan.

"Sehat itu upaya yang akan bermanfaat untuk diri kita sendiri, meski perusahaan tidak mendapatkan benefitnya. Minimal kita bisa memberikan dampak tubuh yang sehat ini kepada keluraga, yakni menjadi tulang punggung keluarga," pungkas drg Kartini.

(up/up)