Sabtu, 20 Apr 2019 07:07 WIB

Absen Olahraga Saat Badan Tidak Fit Seperti Sandiaga Uno

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Sandiaga Uno absen olahraga (Foto: instagram) Sandiaga Uno absen olahraga (Foto: instagram)
Jakarta - Kepada rekan-rekannya, Sandiaga Uno lewat unggahan di Instagram menyampaikan maaf tidak bisa lari pagi dan main basket di akhir pekan. Dokter menyarankannya untuk istirahat.

Kondisi kesehatan Sandi jadi perbincangan setelah dalam beberapa kesempatan tidak muncul dalam deklarasi kemenangan calon presiden nomor urut 02. Pada deklarasi ketiga, ia hadir dengan ekspresi kuyu seperti sedang sakit.

Sempat dikhawatirkan kena DBD (Demam Berdarah Dengue) oleh juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak, kabar terbaru menyebut Sandi mengalami gangguan lambung dan radang tenggorokan.



Terlepas dari berbagai spekulasi tentang kondisi kesehatan Sandi, keputusan untuk absen berolahraga tentu bukan pilihan mudah bagi seseorang yang terbiasa berolahraga secara teratur. Dilematis, karena kadang-kadang olahraga bisa membuat tubuh terasa lebih enakan, tetapi juga bisa jadi penyakit kalau dipaksakan.


Memutuskan untuk tetap olahraga atau istirahat dulu saat sakit adalah situasi dilematis. Olahraga, kadang-kadang bisa membuat tubuh terasa lebih enak.Memutuskan untuk tetap olahraga atau istirahat dulu saat sakit adalah situasi dilematis. Olahraga, kadang-kadang bisa membuat tubuh terasa lebih enak. Foto: iStock

Aturan 'above the neck'

Ada banyak pertimbangan untuk memutuskan, tetap olahraga atau absen dulu saat sakit. Salah satu pedoman yang banyak dianut adalah aturan 'above the neck'. Maksudnya bagaimana?

Bila gejala sakit terasa hanya di atas leher, seperti hidung meler atau nyeri telan, maka biasanya tidak masalah untuk tetap olahraga. Tentu dengan intensitas yang disesuaikan, yakni lebih ringan dari biasanya.

Namun bila gejalanya terasa di bawah leher, maka sebaiknya istirahat total. Contohnya apabila disertai sesak napas, nyeri dada, bahkan nyeri sendi. Kalaupun ingin tetap berolahraga, harus dengan intensitas paling ringan hingga kondisi membaik.

Keluhan ringan 'di atas leher' menandakan masih boleh olahraga, tapi dengan intensitas yang diturunkan.Keluhan ringan 'di atas leher' menandakan masih boleh olahraga, tapi dengan intensitas yang diturunkan. Foto: iStock




Menurunkan intensitas

Bagaimana mengukur intensitas olahraga agar berlebihan? Cara paling akurat adalah dengan mengukur denyut nadi maksimal (HR max), dihitung dengan rumus 220 - usia (dalam tahun). Olahraga dengan intensitas ringan menghasilkan denyut jantung antara 50-70 persen dari HR max.

Namun kadang-kadang cara ini tidak praktis jika tidak menggunakan alat bantu seperti Heart Rate Monitor. Cara lain yang lebih praktis adalah dengan menggunakan test talk. Intensitas olahraga dikatakan ringan apabila masih bisa dilakukan sambil ngobrol tanpa kehabisan napas, bahkan seharusnya bisa sambil bernyanyi.



Punya pendapat tentang dilema berolahraga saat sedang sakit? Bagikan di kolom komentar.


Saksikan juga video 'Gemar Olahraga? Hati-hati Overtraining!':

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)
News Feed