Kamis, 22 Agu 2019 05:30 WIB

Penting! Kenali Tahap-tahap Serangan Jantung Saat Olahraga

Kintan Nabila - detikHealth
Kematian mendadak akibat serangan jantung sering terjadi saat olahraga (Foto: thinkstock) Kematian mendadak akibat serangan jantung sering terjadi saat olahraga (Foto: thinkstock)
Jakarta - Dalam tiga tahun terakhir ajang lari di Indonesia menjadi tren dengan jumlah peserta yang terus meningkat. Sayangnya, peningkatan ajang lari ini berbanding lurus dengan peningkatan korban meninggal saat berlari.

Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mencatat ada total 5 korban meninggal dalam empat ajang lari pada 2018 hingga pertengahan 2019.

"Risiko cedera berpotensi sangat besar dalam ajang lari. Baik cedera langsung (traumatic injury) atau cedera tidak langsung (overused injury). Jika penanganan salah maka risikonya kematian mendadak," kata praktisi kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Jack Pradono Handojo, MHA, saat ditemui di gedung FKUI Salemba. Selasa (21/8/2019).



Antisipasi risiko kematian mendadak bisa dilakukan dengan mengenali tanda-tanda serangan jantung. Berikut tahap-tahap serangan jantung yang bisa terjadi saat olahraga.

1. Berdebar-debar

Dalam sebuah broadcast viral, disebutkan tubuh akan terasa panas saat mendekati batas maksimal kerja jantung. Menurut dr Jack, itu kurang tepat.

"Panas ini nggak selalu ya, tapi patokannya adalah frekuensi napas dan frekuensi nadi," kata dokter Jack.

Jantung terasa berdebar-debar hebat dengan frekuensi denyut nadi di atas 160 bpm (beat per minute).

"Biasanya yang terjadi, denyut nadinya naik sampai 180-190 itu sebenarnya udah tanda-tanda bahwa dia udah enggak sanggup lagi," katanya.

2. Sulit mengatur napas

Saat kita mulai merasa sesak atau napas terengah-engah dan sulit untuk lari sambil bicara, maka itu tandanya kita harus mengurangi power.

"Biasanya orang pakai monitor kalau sudah di 180 bpm dia ngasih sinyal. Kemudian kita turunkan temponya, turunkan intensitasnya, turunkan speednya, sampai dia turun lagi ke 150. Baru safe lagi untuk running," katanya.

Dokter Jack juga menyarankan agar pelari memakai monitor agar tahu kapasitas kemampuan jantungnya saat berlari. Hal ini juga bisa mengurangi resiko kematian mendadak.

"Orang yang enggak pakai monitor bisa bablas. Tiba-tiba kalau udah di 200, naik-naik pada titik tertentu bisa cardiac arrest (henti jantung)," ujarnya.



3. Berkunang-kunang atau mual

Pada kondisi ini, seseorang wajib berhenti. Memaksakan diri tetap beraktivitas fisik bisa berakibat fatal.

"Di titik itu kunang-kunang, tandanya mau jatuh (pingsan)," kata dokter Jack.

Pada saat kepala terasa pening dan pandangan berkunang-kunang, seorang pelari mesti berhenti sejenak karena dikhawatirkan akan pingsan.

4. Blackout atau pingsan

Dekan FKUI Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, mengatakan saat oksigen di otak mulai menipis, orang akan pingsan. Namun, pada titik itu dia belum meninggal.

"Penanganan ketika pingsan inilah yang paling penting. Ketika dia tidak bernapas, segera berikan oksigen atau pernapasan buatan," katanya.

5. Jantung berhenti bekerja

Orang yang berlari, pasti kondisi awalnya dalam keadaan sehat, kenapa bisa terjadi meninggal mendadak?

"Kalau memang dia ini ada gangguan jantungnya, kemudian dengan dia melakukan excersise akhirnya memaksa jantung bekerja keras. Dalam waktu singkat terjadi henti jantung," kata dr Ari.



Simak Video "Lari Virtual untuk Peringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)