Minggu, 22 Mar 2020 05:48 WIB

Sebugar Paulo Dybala Bisa Kena Corona, Masih Pentingkah Olahraga?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Paulo Dybala vs kurva huruf J Penyerang Juventus Paulo Dybala terinfeksi virus corona COVID-19. Foto: Getty Images
Jakarta -

Sederet atlet top Italia terinfeksi virus corona, termasuk yang baru saja diumumkan, penyerang Juventus Paulo Dybala. Banyak yang lantas penasaran, kalau para atlet dengan kebugaran prima saja bisa tertular, masih perlukah anjuran untuk berolahraga?

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) baru-baru ini mengeluarkan panduan untuk tetap aktif selama pandemi COVID-19. Panduan ini tetap menegaskan, gaya hidup kurang gerak bisa menurunkan imunitas tubuh sehingga meningkatkan risiko infeksi virus.

"PDSKO tetap merekomendasikan untuk tetak hidup AKTIF selama pandemi COVID-19," tulis panduan tersebut.

Meski demikian, panduan ini juga mengingatkan untuk tidak overtraining alias olahraga berlebihan dengan intensitas tinggi. Anjuran ini dijelaskan dengan sebuah kurva berbentu huruf 'J'.

"Kurva berbentuk huruf 'J' menyatakan bahwa latihan fisik intensitas sedang dapat meningkatkan imunitas tubuh, sedangkan latihan dengan intensitas tinggi justru menurunkan imunitas tubuh sehingga meningkatkan risiko infeksi," jelas panduan ini.

Kurva huruv 'J' yang menjelaskan hubungan antara imunitas tubuh dengan intensitas latihan.Kurva huruf 'J' yang menjelaskan hubungan antara imunitas tubuh dengan intensitas latihan. Foto: Panduan Hidup Aktif PDSKO

Bagaimana membedakan intensitas sedang dan intensitas tinggi? Tes bicara bisa diandalkan untuk itu. Dikatakan intensitas sedang jika saat latihan fisik seseorang masih bisa bicara meski terengah-engah. Jika sampai tidak bisa bicara, itu berarti intensitas tinggi.

Nah, jelas kan. Selama intensitasnya tak setinggi Paulo Dybala saat latihan, olahraga rutin tetap dianjurkan untuk membantu daya tahan tubuh.



Simak Video "Percepat Target Vaksin COVID-19, WHO: Butuh Dana Rp 449 T"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)