Kamis, 23 Jul 2020 05:30 WIB

Sehatnya Bersepeda 'Ambyar' Gara-gara Tak Patuhi Protokol COVID-19

Elsa Himawan - detikHealth
Sejak pandemi COVID-19 (Corona), masyarakat mulai sadar akan kesehatannya. Salah satu cara mudah untuk memiliki tubuh sehat yakni dengan bersepeda. Gowes saja tanpa nongkrong-nongkrong, bisa kan? (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Sebanyak 21 tenaga kesehatan di RS RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi, Blitar, positif virus Corona, diduga tertular dari komunitas gowes. Ini jadi pengingat bahwa olahraga yang seharusnya menyehatkan bisa menghadirkan petaka jika disiplin tidak dijaga di tengah pandemi virus Corona COVID-19.

Dokter yang jugad pegiat olahraga bersepeda, dr Risayogi Sitorus, menyayangkan masih banyak pesepeda yang abai pada protokol kesehatan saat berkegiatan. Menurutnya, perilaku abai protokol kesehatan terutama terjadi saat para pegowes berkerumun dan melakukan aktivitas lain usai bersepeda.

"Dipamerkan di sosmed (social media), orang lihat dan ikut-ikutan. Makin ramai, pelanggaran terjadi, berkumpul menjadi lebih lima orang," tutur dr Risayogi saat dihubungi detikcom Rabu (22/7/2020).

"Akhirnya makin kencang, formasi bersepeda lebih rapat. Intensitas makin tinggi, akhirnya lepas masker. Intensitas tinggi, rapat, lebih dari 5 orang, dan ramai," lanjutnya.

Bupati Brebes Idza Priyanto hadiri kegiatan gowes massal di Desa Kalijurang, Minggu (12/7/2020).Bupati Brebes Idza Priyanto juga jadi sorotan usai nekat menghadiri kegiatan gowes massal di tengah situasi pandemi, di Desa Kalijurang, Minggu (12/7/2020). Foto: Imam Suripto/detikcom

Kumpul-kumpul sehabis gowes, menurut dr Risayogi sangat berisiko dalam situasi saat ini. Ia berpesan agar para pesepeda segera pulang usai berolahraga, sebab risiko penularan virus Corona menjadi tinggi saat berkumpul.

"Setelah selesai ya pulang. Kalaupun mau kumpul, jangan ditempat indoor karena kalo indoor, udara muternya di situ doang, jadi resikonya juga kena. Kalau di udara terbuka, tetap ada risiko tapi bisa mengurangi transmisi dari penularan. Selesai olahraga bareng, pulang," tegasnya.

Banyak pegowes bandel

Menurut dr Risayogi, kebanyakan pegowes bukan tidak mengetahui protokol kesehatan. Mereka umumnya tahu, tetapi hanya mendengarnya sebagai imbauan dan tidak selalu dipatuhi atau diterapkan dengan sungguh-sungguh.

"Akibatnya banyak yang nggak ikutin protokol, ironisnya komunitas internal yang merupakan orang-orang RSUD yang dalam lingkungan beresiko tinggi jadi menyebarkan di antara mereka juga. Sayangnya, tidak memberikan contoh padahal merupakan tenaga kesehatan," pungkasnya.

gowes di PIK 2Jembatan PIK 2 yang tengah hits juga menjadi spot kumpul-kumpul para pesepeda dengan kemasan gowes bareng. Foto-foto 'wefie' para pesepeda di lokasi ini bertebaran di media sosial. Foto: Defara Millenia Romadhona/detikHealth

Kelalaian seperti ini dikisahkan juga oleh Ulfa, salah seorang pegowes dari komunitas gowes yang diduga menjadi sumber penularan terhadap 21 tenaga kesehatan RSUD Ngudi Waluyo, Blitar. Ulfa yang merupakan staf bagian apotek RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi, menduga penularan terjadi saat makan bersama di rumah teman usai berolahraga.

"Sampai di rumah teman itu kami makan bersama. Otomatis semua masker dilepas untuk menikmati hidangan tuan rumah. Mungkin saat itulah penularan airborne terjadi karena di dalam ruangan walaupun kami usahakan tetap menjaga jarak aman," tutur Ulfa.

Gowes memang banyak manfaatnya bagi kesehatan, tetapi kumpul-kumpul tanpa mematuhi protokol kesehatan dalam situasi seperti ini bisa bikin semuanya 'ambyar' seketika.



Simak Video "Pengusaha Taman Rekreasi Ngaku Dapat Berkah dari Komunitas Sepeda"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)