Saraf Kejepit: Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya

Saraf Kejepit: Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya

Bayu Ardi Isnanto - detikHealth
Selasa, 10 Jan 2023 16:16 WIB
Herniated Nucleus Pulposus
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta -

Nyeri pada tulang belakang, terutama pada pinggang dan leher mungkin bisa sembuh dengan sendirinya. Namun kalian harus tetap waspada karena bisa saja nyeri tersebut adalah gejala dari saraf kejepit.

Apa itu saraf kejepit dan apa saja gejalanya? Kita akan ulas di sini secara lengkap beserta cara pengobatan dan pencegahannya.

Pengertian Saraf Kejepit

Saraf kejepit atau saraf terjepit adalah sebutan untuk penyakit hernia nukleus pulposus (HNP). Dilansir dari laman RSUP dr Kariadi, penyakit ini terjadi ketika bantalan ruas tulang belakang bergeser dan menekan saraf tulang belakang.

Berdasarkan laman RS Panti Rapih Yogyakarta, saraf kejepit bisa terjadi pada seluruh ruas tulang belakang kita, baik itu di tulang leher, dada, sampai tulang pinggang yang meliputi cervical, thorakal dan lumbal.

Yang paling sering, saraf kejepit terjadi di daerah punggung bawah atau pinggang yang disebut HNP lumbalis dengan (90 persen). Sementara saraf kejepit di daerah punggung atas sampai leher terjadi hanya sekitar 8 persen. Sisanya berada di tempat lain seperti dada.

ADVERTISEMENT

Penyebab Saraf Kejepit

Saraf kejepit terjadi karena saraf tulang belakang tertekan oleh pergeseran ruas tulang belakang. Lalu apa saja penyebab pergeseran tulang belakang itu hingga mengakibatkan saraf kejepit?

Posisi Duduk dan Tidur

Posisi duduk atau tidur yang salah dan dalam waktu yang lama bisa menyebabkan terjadinya saraf kejepit. Biasakanlah duduk tegak dengan menggunakan kursi yang menopang tulang belakang dengan baik. Begitu pula saat tidur, usahakan tulang belakang tetap berbentuk sesuai lekukannya.

Faktor Pekerjaan

Sering kali pekerjaan mengharuskan kita duduk atau berdiri terlalu lama, misalnya sopir, mengetik, desain grafis, editor video, pekerja pabrik. Carilah posisi paling nyaman dan sering-seringlah melakukan peregangan otot.

Usia

Usia yang semakin bertambah membuat kelenturan bantalan tulang belakang semakin berkurang dan rentan terhadap cedera. Meski demikian, kelompok usia muda juga tetap memiliki risiko.

Trauma

Trauma pada tulang belakang bisa terjadi karena banyak hal, mungkin cedera saat berolahraga, mengangkat benda berat, kecelakaan, mendorong mobil, jatuh dengan posisi duduk. Selain itu, riwayat trauma juga bisa menimbulkan saraf kejepit.

Faktor Risiko

Beberapa faktor risiko terjadinya saraf kejepit, antara lain:

  • Riwayat saraf kejepit pada keluarga.
  • Obesitas atau berat badan berlebih membuat tekanan lebih besar pada tulang belakang.
  • Gerakan mengangkat beban berat dengan posisi dan tumpuan yang salah.
  • Gerakan menunduk dan berputar secara mendadak atau berulang.

Gejala Saraf Kejepit

Gejala paling umum ialah rasa nyeri yang tajam pada bagian tubuh yang terserang saraf kejepit, misalnya nyeri saat membungkuk. Berikut ini beberapa gejala yang dialami saat terserang saraf kejepit, dilansir dari laman Kementerian Kesehatan dan RS Panti Rapih.

Gejala Umum

Selain nyeri, terdapat gejala yang juga dirasakan banyak pasien saraf kejepit, antara lain mati rasa atau berkurangnya sensasi di area tertentu, sensasi terbakar, kesemutan, otot terasa lemah, kaki dan tangan sulit digerakkan.

Gejala Saraf Kejepit di Leher

Jika saraf kejepit terjadi di leher, beberapa gejalanya ialah nyeri saat menggerakkan leher, nyeri dan kesemutan di sekitar tulang belikat, nyeri yang menjalar ke bahu, lengan atas, lengan bawah dan jari-jari.

Gejala dapat muncul disertai batuk, bersin atau mengejan. Jika kondisi sudah berat, gejala bisa sampai kelumpuhan anggota gerak dengan gejala awal otot melemah sulit mengangkat lengan.

Saraf Kejepit di Pinggang

Saraf kejepit di punggung bawah atau pinggang memiliki gejala nyeri di daerah pinggang, pantat dan menjalar ke arah betis dan kaki. Salah satu atau kedua tungkai bawah sering merasa kesemutan kesemutan. Jika kondisi sudah berat, penyakit ini dapat mengalami kelumpuhan.

Pengobatan Saraf Kejepit

Gejala nyeri mungkin bisa saja hilang dengan sendirinya. Namun jika terjadi secara terus menerus, maka periksakan ke dokter untuk mengetahui apakah gejala tersebut berkaitan dengan saraf kejepit. Berikut ini beberapa penanganan dan pengobatan jika diagnosis dokter mengarah pada saraf kejepit.

Istirahat

Hal paling pertama ketika merasa nyeri yang tajam adalah mengistirahatkan bagian tubuh tersebut, entah itu disebabkan saraf kejepit atau yang lainnya. Jika membutuhkan penanganan lebih, bisa menjalani tirah baring atau bed rest di rumah sakit.

Fisioterapi

Mintalah bantuan fisioterapis untuk menangani saraf kejepit. Mereka mungkin akan memberikan gerakan latihan, pijatan, saran penggunaan alat, hingga modifikasi gaya hidup.

Obat

Obat-obatan yang diberikan dapat berupa analgesik dan NSAID yang bisa mengurangi rasa nyeri dan peradangan, obat pelemas otot, opioid, kortikosteroid. Obat bisa diberikan secara diminum atau disuntik.

Operasi

Operasi bedah dilakukan untuk pasien saraf kejepit yang sudah mengalami nyeri hebat secara terus menerus hingga 2-3 bulan dan tidak terobati dengan cara-cara di atas. Beberapa operasi bedah yang dilakukan adalah laminektomi dan disektomi.

Pencegahan Saraf Kejepit

Meskipun pencegahan tidak menjamin dapat benar-benar menghilangkan risiko saraf kejepit, tetap saja tindakan pencegahan lebih baik daripada tidak melakukan apapun. Berikut beberapa pencegahan yang bisa dilakukan seperti disebutkan dalam laman RSUP dr Kariadi.

Olahraga

Berolahraga secara rutin sangat baik untuk kesehatan. Untuk mencegah saraf kejepit, pilihlah olahraga yang menguatkan otot dan sendi di tungkai dan punggung, salah satunya berenang. Berenang juga bisa membuat rileks.

Menjaga Postur dan Berat Badan

Jaga berat badan agar tetap proporsional. Kelebihan berat badan akan menjadi faktor risiko saraf kejepit. Postur tubuh juga perlu diperhatikan agar tulang tidak bengkok, misalnya dengan cara duduk dan tidur dengan posisi benar.

Peregangan

Jika pekerjaan Anda mengharuskan duduk atau berdiri dalam waktu yang lama, sesekali lakukan peregangan misalnya dengan berjalan-jalan atau berbaring sebentar setiap 30 menit sekali.

Gaya Hidup Sehat

Terapkan gaya hidup sehat sejak dini. Misalnya dengan makan makanan bergizi seimbang, tidak merokok, tidak minum alkohol.

Menggunakan Alat Bantu

Fisioterapis mungkin akan menyarankan penggunaan alat bantu jika Anda berisiko terserang saraf kejepit, misalnya dengan menggunakan korset untuk menjaga posisi tubuh dengan baik.

Komplikasi Saraf Kejepit

Rasa nyeri yang didiagnosis sebagai saraf kejepit juga dapat menjadi gejala serangan penyakit lainnya, Beberapa komplikasi yang berhubungan dengan saraf kejepit antara lain:

  • Inkontinensia urine dan inkontinensia tinja, yaitu atau tidak mampu menahan kencing dan buang air besar.
  • Mati rasa atau hilang sensasi di area sekitar dubur dan paha bagian dalam.
  • Kelumpuhan yang terjadi karena kerusakan saraf permanen.
  • Sindrom Cauda Equina, terjadi karena tekanan pada sekumpulan saraf (cauda equina) di bagian bawah saraf tulang belakang.

Nah itulah tadi penjelasan lengkap mengenai hernia nukleus pulposus (HNP) atau yang dikenal dengan sebutan saraf kejepit. Gejala saraf kejepit memang terkadang terasa ringan dan baru terasa berat ketika parah.

Lakukan pencegahan sedini mungkin untuk mengurangi faktor risiko saraf kejepit. Namun jika terjadi gejala yang berat, segeralah datang ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.




(bai/fds)