Kolom Kebugaran

Mengapa Gampang Kena Flu dan Batuk di Musim Hujan?

Fitri Isnia Nuryani, S.Pt - detikHealth
Selasa, 13 Jan 2026 06:31 WIB
Kenapa mudah flu saat musim hujan? Foto: Pradita Utama/detikcom
Jakarta -

Musim hujan kerap datang bersamaan dengan keluhan flu, batuk, dan tubuh yang terasa lebih mudah lelah. Perubahan suhu, udara lembap, hingga kebiasaan kehujanan membuat daya tahan tubuh bekerja lebih keras. Tak heran jika pada periode ini, banyak orang jatuh sakit meski merasa telah menjaga kesehatan.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebut, berdasarkan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), penyakit pernapasan seperti influenza dan ISPA cenderung meningkat saat peralihan ke musim hujan, seiring dengan perubahan suhu dan kelembapan yang membuat virus pernapasan lebih mudah bertahan dan menyebar, terutama di ruang tertutup dan tempat ramai.

Kondisi ini kerap dianggap sebagai siklus tahunan yang wajar. Padahal, di balik gejala yang tampak ringan, sistem imun sebenarnya sedang berada dalam tekanan. Pola makan yang kurang seimbang, istirahat yang tidak optimal, serta paparan udara dingin dapat memperbesar kerentanan tubuh terhadap infeksi.

Karena itu, untuk memahami mengapa flu dan batuk begitu mudah muncul saat musim hujan, penting melihat bagaimana perubahan cuaca memengaruhi cara sistem imun bekerja melindungi tubuh.

Mengapa Musim Hujan Identik dengan Flu dan Batuk?

Saat musim hujan, tubuh tidak hanya berhadapan dengan lingkungan yang lebih dingin dan lembap, tetapi juga dengan perubahan cara sistem pertahanan tubuh bekerja. Udara dingin dapat memengaruhi pertahanan alami tubuh di hidung dan saluran napas atas, yang merupakan garis pertahanan pertama terhadap virus. Ketika suhu menurun, pertahanan awal ini bekerja kurang optimal, sehingga virus flu dan batuk lebih mudah masuk dan berkembang sebelum tubuh sempat melawannya secara maksimal. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), yang menunjukkan bahwa suhu dingin dapat melemahkan pertahanan awal tubuh di saluran pernapasan.

Kondisi lingkungan juga turut berperan. Kelembapan udara yang tinggi membuat virus pernapasan dapat bertahan lebih lama di udara maupun pada permukaan benda. Ditambah lagi, saat hujan orang cenderung lebih sering beraktivitas di ruang tertutup dan tempat ramai, yang meningkatkan risiko penularan antarindividu. Hubungan antara kelembapan, suhu, dan daya tahan virus influenza ini juga banyak dibahas dalam publikasi ilmiah di PNAS, yang menyoroti bagaimana faktor lingkungan memengaruhi penyebaran virus pernapasan.

Selain itu, paparan sinar matahari yang berkurang selama musim hujan dapat memengaruhi keseimbangan tubuh, termasuk fungsi daya tahan. Kurangnya sinar matahari sering dikaitkan dengan menurunnya kadar vitamin D, yang berperan membantu tubuh melawan infeksi saluran pernapasan. Peran vitamin D dalam menjaga daya tahan tubuh terhadap infeksi ini dirangkum dalam meta-analisis yang dimuat dalam jurnal The BMJ.

Kombinasi antara udara dingin, lingkungan yang mendukung penyebaran virus, dan daya tahan tubuh yang tidak optimal inilah yang membuat flu dan batuk lebih mudah muncul saat musim hujan.

Karena itu, tubuh memerlukan dukungan ekstra dari dalam. Salah satu cara paling mendasar untuk menjaga stamina adalah melalui pola makan harian yang tepat.



Simak Video "Video: Kenali Gejala 'Super Flu' Subclade K dan Cara Mendeteksinya"


(fti/up)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork