Selebrasi 'ice cold' ala Cole Palmer yang ditiru Beckham Putra usai menjebol gawang Saint Kitts & Nevis viral di media sosial. Aksi ini dilakukan Etam usai cetak gol pertamanya untuk timnas senior.
Indonesia vs Saint Kitts & Nevis pada laga FIFA Series 2026 digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3/2026) malam WIB. Anak asuh John Herdman menang telak 4-0 atas tim tamu.
Gestur menyilangkan tangan dan memegang lengan atas seolah menggigil bukan hal baru bagi Beckham. Ia sering melakukannya ketika cetak gol saat berkostum Persib Bandung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan Hanya Selebrasi, tapi Efikasi Diri
Dalam kasus Beckham, sepakbola di level elit membutuhkan kepercayaan diri yang baik. Dalam psikologi, hal ini bisa diartikan self-efficacy atau efikasi diri, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri.
Semakin tinggi kepercayaan diri yang ia alami, semakin kecil kebutuhan untuk menunjukkan emosi berlebihan. Efikasi diri mengacu pada bagaimana perasaan seseorang tentang kemampuan mereka untuk berhasil dalam berbagai situasi.
Dikutip dari Verywell Mind, efikasi diri adalah keyakinan seseorang akan kemampuannya untuk menyelesaikan suatu tugas atau mencapai suatu tujuan tertentu.
Psikolog kognitif sosial Albert Bandura mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan pada kemampuan seseorang untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mengelola situasi yang mungkin terjadi.
Penguasaan Emosi dalam Sepakbola
Selebrasi "cold" yang kerap diperagakan Cole Palmer dengan ekspresi datar, minim senyum, dan gestur santai bukan sekadar gaya unik di lapangan. Dalam kacamata psikologi, gestur ini bisa mencerminkan cara seseorang mengelola emosi, tekanan, dan identitas diri.
Di level kompetisi tinggi, pemain sepak bola dituntut tetap tenang meski berada dalam situasi penuh tekanan. Ekspresi "dingin" seperti yang ditunjukkan Beckham dapat menjadi bentuk regulasi emosi, kemampuan menahan euforia berlebihan agar tetap fokus.
Dikutip dari Psychology Today, Ketika pengendalian emosi gagal, orang sering mengatakan atau melakukan hal-hal yang kemudian mereka sesali dan berharap mereka mampu mengendalikan emosi mereka.
Dalam konteks sepakbola, terdapat bahaya nyata jika emosi seperti amarah, kecemasan, atau ketakutan tidak dikendalikan dengan baik. Salah satunya adalah kesulitan berpikir jernih, sehingga membuang-buang peluang yang ada di depan mata.
Simak Video "Video: Ramuan Kulit Nanas Penangkal Sakit-sakitan usai Lebaran"
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/up)











































