Dunia bulu tangkis tersentak saat sang 'alien', Viktor Axelsen, mengumumkan pengunduran dirinya di usia 32 tahun. Padahal, dominasinya di lapangan masih terasa sangat kuat setelah meraih emas Olimpiade Paris 2024.
Namun, di balik smes tajam dan jangkauan langkahnya yang lebar, tersimpan perjuangan menyakitkan melawan cedera punggung kronis yang akhirnya memaksa sang legenda untuk menyerah.
"Keputusan ini telah dibuat setelah berkonsultasi dengan ahli bedah yang mengoperasi saya tahun lalu, serta dokter-dokter yang telah bekerja sama dengan saya. Mereka mengatakan bahwa dengan rasa sakit yang saya alami sekarang, kemungkinan besar akan diperlukan operasi lagi, dan jika operasi itu tidak berjalan lancar, prosedur yang lebih serius mungkin diperlukan," ucap Axelsen kepada Badminton Europe dikutip Rabu (15/4/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, seberapa parah sebenarnya cedera punggung yang diidap Axelsen hingga ia harus meninggalkan olahraga yang menjadi hidupnya?
Tekanan pada Saraf Tulang Belakang
Masalah punggung Axelsen berawal dari sebuah insiden back squat pada tahun 2018 yang membuat punggungnya "menyerah". Dalam vlog di kanal YouTube-nya, meskipun sempat membaik, Axelsen mengatakan kondisi ini meledak kembali hanya 6 minggu sebelum Olimpiade Paris 2024 saat ia bertanding di Singapura.
"Saya sangat stres karena Olimpiade sudah dekat," kenang Axelsen.
Demi mengincar medali emas, ia harus menerima suntikan pereda nyeri langsung ke punggungnya agar bisa berdiri tegak dan bertanding. Meskipun misi di Paris sukses besar, harga yang harus dibayar sangat mahal. Pasca-Olimpiade, rasa sakitnya menjadi "tak tertahankan" hingga ia harus mengonsumsi banyak obat pereda nyeri dan obat saraf setiap hari, namun hasilnya nihil.
Diagnosis resmi yang memaksa Axelsen naik ke meja operasi di Jerman adalah herniasi diskus (saraf terjepit) pada area L4-L5. Cakram sendinya menonjol dan menekan saraf, yang menyebabkan nyeri saraf hebat menjalar hingga ke kaki kirinya.
Ayahnya, yang juga manajernya, menceritakan betapa memilukannya melihat Viktor di All England 2024.
"Ia bergerak seperti orang kikuk di lapangan karena menahan sakit. Ia tahu jika ia bugar, ia adalah yang terbaik, tapi selama dua-tiga tahun terakhir ia benar-benar berjuang melawan itu," ungkap sang ayah.
Operasi Endoskopi dan Upaya Terakhir
Pada April 2025, Axelsen sempat menjalani operasi endoskopi punggung. Prosedur ini bertujuan untuk mengangkat bagian diskus yang menekan saraf agar rasa sakit dan kesemutan di area kaki bisa hilang. Meskipun sempat kembali ke lapangan dan memenangkan emas di Paris, Axelsen mengakui bahwa ia harus bergantung pada berbagai tindakan medis agar tetap bisa berdiri tegak, mulai dari suntikan epidural sampai terapi intensif.
Namun, titik balik terjadi pada Oktober tahun lalu. Kondisinya mengalami kemunduran (setback) yang signifikan. Rasa sakit kembali muncul meski ia tidak sedang bertanding, sebuah sinyal bahwa struktur punggungnya sudah tidak sanggup lagi menopang tuntutan latihan level tinggi.
"Mengambil keputusan ini sangat sulit dan terkadang terasa tidak adil. Pada saat yang sama, tubuh saya telah melakukan pekerjaan yang luar biasa selama bertahun-tahun, dan saya melihatnya sebagai sebuah hak istimewa yang besar karena dapat bermain, berlatih, dan memenangkan begitu banyak turnamen besar di level tertinggi. Sangat sedikit orang yang dapat mengalami apa yang telah saya alami dan bertemu begitu banyak orang yang luar biasa," tandasnya.
Simak Video "Video: Kisah Reza Pahlevi, Pebulutangkis Non-pelatnas Peraih Emas SEA GAMES 2025"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)











































