Bandung Membiru usai Persib Juara, Ini Kata Dokter Jiwa soal 'Collective Euphoria'

Bandung Membiru usai Persib Juara, Ini Kata Dokter Jiwa soal 'Collective Euphoria'

detikHealth
Minggu, 24 Mei 2026 11:18 WIB
Devandra Abi Prasetyo
Ditulis oleh:
Devandra Abi Prasetyo
Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fans Manchester United yang juga eks pesepakbola semi-profesional. Banyak menulis soal olahraga dari sudut pandang hidup sehat.
Persiapan konvoi Persib di Gedung Sate, Kota Bandung, Minggu (24/5/2026)
Persiapan konvoi Persib di Gedung Sate (Foto: Adi Mukti/detikJabar)
Jakarta -

Persib Bandung sukses mengunci gelar juara Super League 2025/2026. Pusat kota Bandung perlahan mulai 'membiru' karena bobotoh bersiap untuk konvoi.

Dikutip dari detikJabar, sejak pagi ribuan bobotoh telah memadati kawasan Jalan Asia Afrika untuk merayakan gelar juara Maung Bandung yang ketiga kali secara beruntun atau hat-trick.

Parade perayaan Persib juara dikabarkan dimulai sekitar jam 07.00 pagi. Namun, sejak dini hari, suasana kegembiraan susah mulai terasa, beberapa bobotoh bahkan sudah datang di sekitaran kawasan Asia Afrika.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah seorang pedagang bubur ayam di kawasan Asia Afrika, Mang Jek, mengatakan suasana ramai sudah terasa sejak gelap. Ia bahkan mulai berjualan lebih awal untuk melayani bobotoh yang datang.

ADVERTISEMENT

"Jualan dari jam 6 sore kemarin, dilanjut jam 3 tadi, masih ada terus bobotoh di sini sampai sekarang" ujarnya.

Lantas, mengapa gelar juara sepakbola selalu identik dengan perayaan besar-besaran atau konvoi?



Spesialis kedokteran jiwa, dr Lahargo Kembaren SpKJ mengatakan sepakbola bukan sekadar kompetisi dan pertandingan, tetapi juga pengalaman emosional kolektif yang sangat kuat.

Ketika sebuah tim akhirnya keluar sebagai juara, maka yang muncul bukan hanya rasa senang biasa, tetapi euforia psikologis bersama.

"Secara psikologis, manusia punya kebutuhan dasar untuk merasa menjadi bagian dari kelompok atau komunitas. Dalam sepak bola, fans tidak hanya menonton pertandingan, tetapi ikut 'hidup bersama' klubnya," kata dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Minggu (24/5/2026).

"Ketika tim juara, otak melepaskan hormon seperti dopamin dan oksitosin yang memunculkan rasa senang, bangga, dan kedekatan sosial. Karena itu, kebahagiaan terasa lebih kuat saat dirayakan bersama-sama melalui konvoi, nyanyian, atau pesta di jalan," sambungnya.

Menurut dr Lahargo, fenomena ini disebut sebagai collective euphoria atau euforia kolektif. Jadi sebenarnya bukan hanya soal bola, tetapi tentang manusia yang merasa 'kami berjuang dan menunggu bersama'.

Halaman 2 dari 2
(dpy/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads