Belakangan, lini masa media sosial dipenuhi oleh keseruan kompetisi olahraga baru bernama Hyrox. Gabungan antara lari dan functional fitness ini sukses menyedot perhatian kaum urban.
Mulai video saat burpee broad jump, tas ransel dengan finisher patch-nya, hingga keseruan di finish line, membuat banyak orang terkena FOMO (Fear of Missing Out) dan mulai penasaran ingin ikutan olahraga ini.
Tapi tunggu dulu, jangan asal ikutan ya. Kompetisi yang memadukan 8 pos latihan fungsional yang diawali dengan lari sejauh 1 km ini termasuk ke dalam olahraga berat, sehingga dibutuhkan fisik yang memadai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Risiko Heat Stroke
Baru-baru ini, di NICE PIK 2 telah digelar Hyrox Race Jakarta. Dari orang biasa hingga selebritis saling beradu ketahanan tubuh untuk menyelesaikan kompetisinya.
Dokter spesialis olahraga, dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO, SubspALK(K) yang juga menjadi salah satu medical team di Hyrox Race Jakarta mengatakan bahwa dalam kompetisi tersebut masih banyak ditemukan peserta tumbang.
Salah satu penyebabnya adalah heat stroke. Terdengar aneh, karena Hyrox sendiri dilakukan di dalam ruangan dingin.
"FOMO (fear of missing out) boleh-boleh saja, tapi memang peserta itu benar benar harus persiapan, harus melakukan pelatihan yang tepat sebelum mengikuti Hyrox," kata dr Andi saat dihubungi detikcom, Selasa (30/6/2026).
"Dari persepsi saya, meskipun itu kejadian di dalam ruangan, tetap saja risiko heat stroke itu ada. Kemarin ada beberapa kasus heat stroke atau heat-related ilness, di mana suhunya sangat tinggi," sambungnya.
Hyrox berisiko memicu heat stroke bisa karena menggabungkan olahraga intensitas tinggi (latihan beban & fungsional) dan daya tahan (lari panjang 8 km). Kombinasi ini memproduksi panas tubuh yang ekstrem, sehingga dibutuhkan hidrasi tubuh yang baik.
dr Andi menekankan pentingnya untuk latihan rutin dan memastikan tubuh sudah siap untuk digunakan bertempur.
Risiko Jantung Kolaps
Senada, dokter spesialis kesehatan olahraga dr Andhika Raspati, SpKO juga mewanti-wanti risiko jantung kolaps pada olahraga ini.
"Harus diingat bahwa Hyrox itu olahraga yang mengombinasikan antara ketahanan kardio dengan ketahanan otot. Gerakannya nggak cuma lari, tapi juga latihan beban," ujar dr Andhika di Jakarta beberapa waktu lalu.
Bahaya terbesar muncul ketika seseorang yang sebelumnya kurang aktif atau punya gaya hidup sedenter dan jarang berlatih intensitas tinggi, tiba-tiba nekat ikut kompetisi hanya karena tergiur tren.
"Awalnya duduk mager doang, nonton TV, kemudian lihat 'Oh seru nih', langsung kompetisi? Kayaknya enggak deh," tegas dr Andhika.
Ia mengingatkan bahwa memaksakan diri tanpa dasar kardio yang kuat bisa berakibat fatal pada organ jantung.
"Kalau kardionya nggak siap atau ternyata punya gangguan jantung yang tidak disadari, lalu dipaksa ikut Hyrox, jantung bisa kumat (kolaps) di lapangan," tambahnya.
Bagi yang tertarik mencoba Hyrox, dr Andhika menyarankan untuk melakukan persiapan secara bertahap dan tidak langsung terjun ke intensitas tinggi.
"Bukan nggak boleh nyobain, tapi jangan langsung mikirin kompetisinya mau jadi juara. Benerin kardio, rapihin dulu. Dari segi kekuatan, teknik angkatnya, hingga stabilitas sendi mesti di-boost dulu," tandasnya.
Simak Video "Video: IDAI Kasih Tips Cegah Dehidrasi dan Heat Stroke pada Anak saat El Nino"
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/kna)











































