Slow jogging tengah naik daun dan banyak dibagikan di media sosial sebagai olahraga yang ramah untuk pemula. Meskipun dilakukan dengan kecepatan yang santai, metode ini diklaim tetap mampu meningkatkan kebugaran.
Secara sederhana, slow jogging dilakukan dengan kecepatan yang sangat nyaman, bahkan hanya sedikit lebih cepat dari berjalan kaki yakni sekitar 3 hingga 5 km/jam. Saat melakukannya, seseorang masih dapat berbicara tanpa kehabisan napas atau menggunakan metode talk test.
Sementara itu, jogging biasa dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi. Biasanya, napas mulai terasa lebih berat, denyut jantung meningkat, dan tubuh membutuhkan energi lebih besar untuk mempertahankan kecepatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mana yang Lebih Baik?
Ditanya mengenai hal ini, dokter spesialis kedokteran olahraga dari RSUI, Dr dr Listya Tresnanti Mirtha, SpKO, Subsp.APK(K), MARS mengatakan pada dasarnya yang seharusnya menjadi perhatian adalah gaya hidup aktif itu sendiri.
Perempuan yang akrab disapa dr Tata tersebut menambahkan, baik itu slow jogging atau jogging normal, keduanya merupakan olahraga kardio yang sangat baik, hanya saja berbeda dalam fokusnya.
"Saya tidak akan mengatakan (slow jogging) lebih baik, tetapi yang jelas akan lebih sesuai untuk kelompok tertentu. Jogging biasa tentu memberikan peningkatan kapasitas kardiorespirasi yang lebih besar apabila dilakukan dengan intensitas lebih tinggi," kata dr Tata kepada detikcom, Sabtu (18/7/2026).
Slow jogging memiliki beberapa kelebihan daripada jogging normal, di antaranya:
- Lebih mudah dilakukan pemula
- Lebih nyaman bagi lansia
- Beban sendi relatif lebih rendah
- Risiko cedera lebih kecil
- Lebih mudah dipertahankan sebagai kebiasaan
"Jadi sebenarnya bukan soal mana yang lebih unggul, tetapi mana yang paling sesuai dengan kondisi dan tujuan seseorang. Karena olahraga yang terbaik adalah olahraga yang aman, sesuai kemampuan, dan bisa dilakukan secara rutin," katanya.










































