Tren slow jogging belakangan ramai dibicarakan di media sosial, terutama setelah banyak video dari Korea Selatan memperlihatkan orang-orang berlari dengan kecepatan santai secara berkelompok.
Teknik berlari dengan kecepatan santai, sekitar 3 sampai 5 km/jam ini dengan cepat menarik atensi banyak pelari, khususnya bagi mereka yang mulai ingin mencoba karena dianggap ringan, tidak menguras tenaga, tetapi diklaim tetap memberikan manfaat bagi kesehatan.
Tak hanya di Korea Selatan, slow jogging ternyata juga sudah berkembang di Indonesia. Komunitas Slow Jogging Indonesia (SJI) bahkan sudah terbentuk sejak 30 Desember 2017.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengurus SJI, Wijang Sri Isnandita (49) mengatakan komunitas ini awalnya dibentuk di Yogyakarta dan saling bertukar informasi melalui Facebook.
Karena banyaknya peminat, maka SJI mencoba untuk melebarkan 'sayapnya' dan mulai berlari di Jakarta, atau tepatnya di Stadion Gelora Bung Karno (GBK).
"Dulu komunitas di Facebook. Tapi kami dulu tersebar, kami latihannya by video terus dikirim, nanti dibetulkan running performance-nya. Pesertanya mayoritas adalah bapak-bapak, yang mau mengawali belajar lari," kata Wijang kepada detikcom, saat ditemui di Komplek GBK, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Wijang menambahkan bahwa komunitas ini memang diperuntukkan untuk pemula yang ingin belajar lari dan merasa kurang percaya diri jika harus ikut komunitas lari yang mungkin banyak yang sudah jago.
"Alhamdulillah, dari yang awalnya banyak yang pace 12, sekarang sudah banyak yang pace 4 itu sudah banyak," katanya.
Slow Jogging Indonesia di Gelora Bung Karno Jakarta (Foto: Devandra Abi Prasetyo/detikHealth) |
Konsep Sama Seperti di Korsel
Wijang mengatakan, konsep dari SJI dan slow jogging di Korsel bisa dikatakan sama, karena berkiblat pada penciptanya yakni Prof Hiroaki Tanaka.
"Bedanya kalau di Indonesia, kita latihan bersamanya jarang ya. Dulu pernah ada terus vakum. Kalau di Korsel kan dia bisa latihan bersama, kayaknya konsisten untuk latihan bersama," katanya.
Meskipun dianggap sepele, Wijang menekankan slow jogging tetap menjadi teknik berlari yang menantang. Terlebih bagi mereka yang belum terbiasa berlari.
"Menantangnya itu yang pertama menuntut kesabaran, karena dr Tirta pernah mengatakan 'semua pelari bisa berlari cepat, tapi tidak semua pelari sanggup berlari lambat'. Karena, satu gluteal (otot bokong) akan kena, karena gerakannya diulang-ulang," kata Wijang.
Simak Video "Video: Pentingnya Frekuensi Olahraga dan Latihan Otot Buat Lansia"
[Gambas:Video 20detik] (dpy/suc)











































