Viral Bumil Ikut Hyrox saat Usia Kehamilan 24 Minggu, Obgyn Ingatkan Ini

Viral Bumil Ikut Hyrox saat Usia Kehamilan 24 Minggu, Obgyn Ingatkan Ini

detikHealth
Jumat, 31 Jul 2026 09:05 WIB
Devandra Abi Prasetyo
Ditulis oleh:
Devandra Abi Prasetyo
Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fans Manchester United yang juga eks pesepakbola semi-profesional. Banyak menulis soal olahraga dari sudut pandang hidup sehat.
Female athlete pushing a weighted sled in a gym. Top view of a woman performing strength training exercise on a black gym floor. Hyrox Training Concept.
Ilustrasi (Foto: Getty Images/pixdeluxe)
Jakarta -

Nabila Qadrianty belakangan bikin heboh media sosial karena mengikuti kompetisi Hyrox. Aksinya ini, menarik perhatian karena Nabila berkompetisi saat hamil 24 minggu.

Pada 30 Januari 2026, Nabila mencatatkan pencapaian istimewa dengan mengikuti Hyrox Osaka di kategori Women's Open (usia 35-39). Bahkan, ia menjadi wanita hamil pertama yang mengikuti kompetisi Hyrox dengan usia kehamilan 24 minggu, sampai-sampai memecahkan rekor MURI.

Nabila berhasil menyelesaikan kompetisi dengan catatan waktu 2 jam 21 menit 37 detik, menempati peringkat ke-599 secara keseluruhan dan peringkat ke-96 pada kelompok usianya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari laman Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) pencapaian ini tercatat dengan nomor rekor 12753 pada 16 Juli 2026.

ADVERTISEMENT

Apakah Aman Hyrox saat Hamil?

Ditanya mengenai hal ini, dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi dr Niken P. Pangastuti, SpOG-KFER dari Brawijaya Hospital mengatakan bahwa pada dasarnya untuk ibu hamil memang disarankan melakukan aktivitas ringan sampai sedang demi kesehatan kandungan.

Namun, bukan berarti ibu hamil ini tidak bisa melakukan aktivitas yang berat, salah satunya Hyrox itu sendiri. dr Niken mengatakan bahwa setiap kondisi ibu hamil tentu berbeda-beda.

"Tapi ya kembali lagi, tiap orang nggak bisa kita samakan. Mungkin dia memang stamina tubuhnya sebegitu kuatnya," kata dr Niken saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (30/7/2026).

"Selama dia rajin memeriksakan diri dan memantau perkembangannya baik-baik saja, tidak ada masalah dengan kondisi kehamilannya, rasanya sih kalau badannya masih bisa menoleransi, masih fine," sambungnya.

dr Niken menambahkan dalam kasus peserta Hyrox yang hamil 24 minggu, besar kemungkinan bahwa sebelum mengandung, dia merupakan sosok yang atletis dan rutin berolahraga.

Meskipun begitu tetap ada risiko pada kandungan ketika ibu hamil yang memilih untuk melakukan aktivitas berat, sehingga jangan sekadar asal meniru tanpa mengetahui kondisi tubuh.

"Sebenarnya sih, saya tidak pernah menyarankan. Apalagi yang tadinya nggak Hyrox, hamil tiba-tiba Hyrox. Cuman kalau yang sebelumnya udah, mungkin setting-an metabolisme dia sudah cukup tinggi," katanya.

Hal ini, lanjut dr Niken karena adanya risiko prematuritas yang akan tinggi. Misalnya, saat dia kelelahan tinggi, akan memicu hormon-hormon yang bisa mengakibatkan kontraksi.



(dpy/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads