Pelari Kenya Agnes Ngetich Pecahkan Rekor Dunia Half Marathon Wanita, 21 Km Pace 3

Pelari Kenya Agnes Ngetich Pecahkan Rekor Dunia Half Marathon Wanita, 21 Km Pace 3

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Senin, 21 Sep 2026 17:12 WIB
COPENHAGEN, DENMARK - SEPTEMBER 20: Agnes Jebet NGETICH of team Kenya winning the womens Half Marathon during the World Athletics Road Running Championships Copenhagen 2026 on September 20, 2026 in Copenhagen, Denmark. (Photo by Gaelle Mobuchon/Worl
Agnes Jebet Ngetich (Foto: World Athletics via Getty Images/Gaelle Mobuchon)
Jakarta -

Pelari Kenya, Agnes Ngetich membuat sejarah. Ia memecahkan rekor dunia Half Marathon wanita dengan catatan waktu 1 jam 5 menit 15 detik. Jika dirata-rata ia mencatatkan pace 3:34.

Dikutip dari Al Jazeera, Agnes menjadi juara di World Athletics Road Running Championships in Copenhagen pada Minggu (20/9). Pelari 25 tahun ini tampil dominan sejak awal lomba dan tidak pernah kehilangan posisi terdepan hingga garis finis.

Rekor HM wanita sebelumnya dipecahkan oleh Peres Jepchirchir, pelari Kenya. Ia menjadi yang tercepat pada World Half Marathon di Polandia tahun 2020.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai informasi, pemegang rekor dunia Half Marathon (HM) wanita dibagi menjadi dua kategori oleh organisasi atletik dunia. Agnes merupakan pemegang rekor HM khusus wanita (women only).

Sementara, untuk kategori campuran (mixed gender) rekor dunia dipegang oleh Letesenbet Gidey asal Etiopia. Ia mencatatkan waktu fantastis 1 jam 2 menit 52 detik (1:02:52) pada tanggal 24 Oktober 2021 di ajang Valencia Half Marathon.

ADVERTISEMENT

Mengapa Banyak Pelari Hebat Berasal dari Kenya?

Kenya memang dikenal sebagai negara yang banyak melahirkan para pelari-pelari cepat. Selain cepat, daya tahan tubuh pelari dari Negara Afrika Timur tersebut juga memiliki daya tahan luar biasa.

Dikutip dari laman World Athletics, masyarakat Kenya memaknai lari dengan cara yang berbeda. Di sana, orang-orang hidup dan bernapas dengan atletik, bahkan banyak anak-anak yang berlari jauh hanya untuk pergi sekolah.

"Lari adalah sesuatu yang datang secara alami kepada kita karena itu telah menjadi bagian dari gaya hidup kita sejak lahir," kata juara dunia setengah maraton tiga kali dan juara Maraton New York City dua kali, Geoffrey Kamworor.

"Saat masih kecil, saya biasa berlari dari rumah ke sekolah yang berjarak tiga kilometer setiap hari, jadi Anda akhirnya berlari hingga 12 kilometer sehari sebagai remaja tanpa menyadarinya."

Selain kebiasaan, faktor genetika juga turut andil. Banyak orang di Lembah Rift, tempat asal sebagian besar pelari jarak jauh terbaik Kenya, berasal dari suku Kalenjin. Jika dibandingkan dengan suku-suku Kenya lainnya, orang-orang Kalenjin sering digambarkan memiliki atribut lari alami yang baik: yaitu tubuh ramping dan kaki panjang.

Unsur lain yang membantu atlet Kenya dalam pelatihan dan persiapan mereka adalah iklim dan lingkungan yang unik di bagian negara ini. Hal ini mungkin juga menjelaskan mengapa ada begitu banyak kamp pelatihan antara Kaptagat dan Iten, dan mengapa beberapa orang menyebutnya sebagai 'Hollywood para pelari elit'.

Wilayah ini terletak pada ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut (MDPL), mengingat kurangnya oksigen, membantu atlet menghasilkan konsentrasi sel darah merah dan hemoglobin yang lebih tinggi saat berlatih. Hal ini, pada gilirannya, memberi pelari keuntungan ketika mereka kembali ke ketinggian yang lebih rendah untuk berlomba.

Tidak hanya fokus latihan lari, para pelari Kenya juga memprioritaskan recovery serta pemenuhan nutrisi. Hal ini yang membuat faktor-faktor tersebut bisa berkembang secara optimal karena tidak hanya berfokus pada teknik dan intensitas lari.

Halaman 2 dari 2
(dpy/suc)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads