Sebagai informasi, gelandang berdarah Indonesia itu ditebus seharga 60 juta euro, dan akan menerima gaji lebih dari 100 juta euro (Rp 2,04 triliun) selama lima tahun.
"Sudah pasti ada peran uang. Setelah karier sepakbolaku berakhir, aku enggak mau kerja lagi," kata pesepakbola berusia 28 tahun ini kepada Voetbalzone.
Menjadi salah satu pesepakbola dengan gaji fantastis, Tijjani dikenal memiliki mentalitas pemenang dalam dirinya. Hal ini yang membuat ia sangat disiplin dalam menjaga kebugaran dan performa.
Dikutip dari Soccernews, Reijnder sangat peka dengan tubuhnya, sehingga ia tahu betul kapan dan berapa lama harus istirahat, nutrisi apa yang baik baginya, serta seberapa keras dirinya harus latihan.
"Sebenarnya saya selalu memiliki kebugaran seperti itu, dan bagi saya itu tidak lebih dari selalu melakukan hal yang sama: mendengarkan tubuh saya dengan saksama. Ini tentang rutinitas standar, seperti banyak istirahat, nutrisi yang baik, dan berlatih keras," katanya.
Tijjani dan Kualitas Tidur
Tidur cukup sangat penting bagi atlet sepakbola, seperti Reijnders, karena menjadi penentu utama dalam pemulihan fisik, ketajaman mental, dan pencegahan cedera di lapangan.
Dikutip dari laman AZ Alkmaar, Reijnders sempat menggunakan cincin pintar (smart ring) tersembunyi yang dipakai di jari untuk memantau kesehatan, kebugaran, dan kualitas tidur secara terus-menerus.
"Ketika Anda tidur kurang dari delapan jam semalam sebagai atlet papan atas, risiko cedera meningkat hingga empat puluh persen," kata pakar tidur Floris Wouterson.
Simak Video "Tidur Lebih Berkualitas, Hidup Lebih Produktif: Solusi Ilmiah untuk Generasi Sibuk"
(dpy/dpy)