Kevin Diks Lebih Cocok Makan Nasi Ketimbang Pasta, Apa Efeknya ke Performa?

Kevin Diks Lebih Cocok Makan Nasi Ketimbang Pasta, Apa Efeknya ke Performa?

detikHealth
Jumat, 16 Okt 2026 05:01 WIB
Devandra Abi Prasetyo
Ditulis oleh:
Devandra Abi Prasetyo
Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fans Manchester United yang juga eks pesepakbola semi-profesional. Banyak menulis soal olahraga dari sudut pandang hidup sehat.
Kevin Diks
Kevin Diks (Foto: Agung Pambudhy/detikFoto)
Jakarta -

Meskipun lahir dan tumbuh besar di Apeldoorn, Belanda, ternyata tubuh Kevin Diks masih menyimpan 'manual book' ala orang Indonesia. Ini berasal dari darah Maluku sang ibu, Natasja Diks-Bakarbessy.

Melalui tes bersama ahli diet pribadinya, kapten Timnas Indonesia itu mengaku bahwa tubuhnya lebih optimal mencerna nasi daripada pasta sebelum pertandingan.

"Sebelum pertandingan aku tidak makan tepung seperti pasta, saya pernah tes dengan coach diet. Hasilnya menunjukkan aku harus makan sedekat mungkin dengan makanan asal usul ku, seperti nasi. Tubuhku menerima itu paling baik," kata Diks saat wawancaranya di siniar YouTube Yussa Nugraha.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Efek Nutrisi Tepat Bagi Tubuh

Kondisi ini bisa dijelaskan melalui nutrigenomik, yakni ilmu yang mempelajari bagaimana zat gizi dan makanan yang kita konsumsi berinteraksi dengan gen di dalam tubuh, sehingga dapat memengaruhi cara tubuh bekerja dan merespons makanan.

Menurut dokter spesialis gizi klinik, dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, sederhananya, nutrigenomik berusaha menjelaskan mengapa makanan yang sama bisa memberikan respons berbeda pada setiap orang.

ADVERTISEMENT

Perbedaan genetik dapat memengaruhi cara seseorang memetabolisme zat gizi, mengatur kadar gula darah, atau merespons pola makan tertentu.

Sebagai seorang pemain sepakbola di level elit, pemberian nutrisi utama (makronutrien) yang tepat bagi tubuh dapat menunjang performa atlet di lapangan.

"Ketika sumber karbohidrat cocok secara genetik dan profil metabolik tubuh, maka sintesis glikogen lebih cepat. Jadi pengisian kembali cadangan energi otot dan hati berlangsung optimal tanpa menimbulkan lonjakan insulin ekstrem atau reaksi peradangan ringan," kata dr Yaze saat dihubungi detikcom, Selasa (12/10/2026).

"Meminimalkan risiko kembung, begah, atau rasa lemas (brain fog/food coma) sebelum dan sesudah tanding," sambungnya.

Nutrisi-nutrisi yang tepat tersebut, juga dapat membantu Diks atau para atlet lain di luar lapangan.

"Pelepasan energi lebih stabil selama 90 menit pertandingan, dan proses recovery otot pasca latihan jauh lebih efisien," tutupnya.



(dpy/naf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads