Jujur! Creator Sastra Silalahi Sebut JRF 2026 Minus di Cuaca, Menang Meriahnya

Jujur! Creator Sastra Silalahi Sebut JRF 2026 Minus di Cuaca, Menang Meriahnya

detikHealth
Minggu, 25 Okt 2026 05:09 WIB
Devandra Abi Prasetyo
Ditulis oleh:
Devandra Abi Prasetyo
Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fans Manchester United yang juga eks pesepakbola semi-profesional. Banyak menulis soal olahraga dari sudut pandang hidup sehat.
Sastra Silalahi
Sastra Silalahi di JRF 2026 (Foto: Devandra Abi Prasetyo/detikHealth)
Jakarta -

Content creator Sastra Silalahi juga mengikuti Jakarta Running Festival 2026. Pelari kalcer tersebut berlari di kategori 5K dan mendapatkan PB alias perbanyak berkonten.

"Finis tadi kita jujur PB, perbanyak berkonten. Jadi kita nggak ngejar waktu, tapi kita ngejar engagement," kata Sastra sambil bercanda saat ditemui di JRF 2026, Sabtu (24/10/2026).

"Kita nggak ngejar berapa cepet kita finis, tapi berapa cepet kita FYP, itu dia," katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belum lama ini, Sastra juga mengikuti ajang lari Berlin Marathon 2026 di Jerman. Menurutnya, terkait kemeriahan, JRF 2026 masih unggul.

"JRF, jujur ini adalah ada 'run' di dalam lebaran. Ini dia 'lebarun' pelari-pelari se-Indonesia," kata Sastra.

ADVERTISEMENT

"Jujur (dibanding Berlin Marathon), dari cheering kita menang. Tapi udara kita kalah telak. Di sini udaranya kayak Jakarta pada umumnya aja, lembap gitu. Tapi untuk cheering, nice dream," katanya.

Terkait udara, memang JRF 2026 hari pertama ini masih terasa panas dan lembap. Medical Director Jakarta Running Festival dr Andi Kurniawan, SpKO mengatakan bahwa cuaca yang lembab membuat banyak peserta lari tumbang dan harus mendapatkan perawatan di tenda medis.

dr Andi berpesan kepada para peserta JRF hari kedua, kategori Full Marathon dan 10K untuk benar-benar memperhatikan tubuhnya. Jangan sampai, keinginan untuk 'push the limit' justru berubah menjadi hal yang diinginkan.

"Pada dengerin badannya. Hari ini banyak sekali yang heatstroke, banyak banget yang harus direndem di es," katanya.

"Jadi semasa kita masih bisa berpikir, masih bisa mendengarkan, maka perlambat. Kalau perlu jalan dulu, jangan dipaksa. Nanti panas tubuhnya makin tinggi, kesadarannya berkurang, sampai akhirnya kolaps," tutupnya.



(dpy/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads