Berlari di Jakarta Running Festival (JRF) 2026 menjadi tantangan tersendiri, bahkan bagi atlet elite asal Kenya, James Kahura. Pelari yang terbiasa bersaing di podium half marathon ini mengaku kesulitan menjaga pace ketika menghadapi cuaca panas dan lembap di Indonesia.
Dalam ajang Jakarta Running Festival (JRF) 2026, Sabtu (24/10/2026), James finis di posisi keempat kategori Half Marathon (21K) Men Open. Podium tiga besar ditempati rekan senegaranya, Vincent Kipkemoi Ngetich, Gideon Kiprotich Rop, dan Bernard Wambua.
James mengakui kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan selama berlari di Jakarta. Menurutnya, kelembapan udara membuat upaya mempertahankan kecepatan lari terasa lebih sulit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia selalu lembap, tidak mudah untuk menjaga pace. Jadi, tidak mudah untuk berlari di Indonesia karena lembap dan sangat panas," ujar James kepada detikcom saat ditemui usai JRF 2026 di Jakarta Selatan, Sabtu (24/10/2026).
Ia juga membandingkan pengalaman berlari di Indonesia dengan sejumlah negara lain, termasuk Eropa. Menurut James, kondisi cuaca di Indonesia membuatnya perlu menghadapi tantangan berbeda ketika berusaha mempertahankan kecepatan sepanjang lintasan.
"Tidak seperti di Eropa atau di tempat lain," lanjut James.
Pada JRF 2026 kali ini, James menyelesaikan Half Marathon dengan catatan waktu sekitar 1 jam 4 menit, berdasarkan pengakuannya kepada detikcom.
Kondisi panas dan kelembapan tinggi memang dapat memengaruhi performa pelari. Ketika suhu udara meningkat, tubuh perlu melepaskan panas lebih banyak agar suhu inti tetap terjaga. Salah satu mekanismenya adalah melalui penguapan keringat dari permukaan kulit.
Namun, kelembapan udara yang tinggi membuat keringat lebih sulit menguap. Akibatnya, proses pendinginan tubuh menjadi kurang efektif meskipun pelari terus berkeringat.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan beban fisiologis selama berlari. Detak jantung dapat meningkat untuk mendukung kebutuhan sirkulasi, sementara tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu internal tubuh.
Bagi pelari jarak jauh, kondisi ini dapat membuat pace yang stabil menjadi lebih sulit dipertahankan. Kehilangan cairan melalui keringat juga perlu diperhatikan karena dehidrasi dapat memperburuk kemampuan tubuh mengatur suhu.
Simak Video "Titan Run 2025 Catatkan Nama di MURI"
[Gambas:Video 20detik] (mal/up)
