Saya istri yang sudah 5 tahun menikah dan belum mempunyai keturunan. Selama ini saya telah selingkuh dengan atasan saya dan saya selalu lebih puas berhubungan seks dengan atasan daripada dengan suami. Mungkin karena ukuran Mr P atasan lebih besar daripada suami dan saya merasa atasan lebih romantis bila dibandingkan suami dalam masalah seks.
Bahkan saya jadi kurang bernafsu dengan suami. Saya dan atasan sudah sering mencoba untuk tidak berhubungan seks lagi, tetapi selalu gagal dan kami akhirnya selalu melakukan hubungan seks secara kontinyu. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan sedangkan saya kurang bernafsu dan kurang puas dengan suami?
M (Perempuan Menikah, 32 Tahun), indoXXXXXX@yahoo.com
Tinggi Badan 135 cm, Berat Badan 55 kg
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mbak M, ketahuilah bahwa masa 5-7 tahun pernikahan merupakan masa kritis awal dalam sebuah pernikahan. Masa kritis kedua adalah saat 10-12 tahun setelah pernikahan. Anda sebenarnya sedang memasuki masa kritis pertama dalam sebuah pernikahan.
Artinya, masalah tidak terpuakan dengan pasangan ini bukanlah problematika Anda saja. Tapi kalau saya lihat, kecenderungan Anda untuk merasa tidak puas dengan pasangan itu muncul ketika Anda sudah berhubungan dengan orang lain. Sebelum berhubungan dengan orang lain, saya yakin sekali Anda tidak akan mengatakan kurang terpuaskan dalam masalah seks.
Ketika Anda mengatakan bahwa penis atasan lebih besar dibanding suami, artinya sebenarnya Anda (mohon maaf kalau saya berterus terang) mencari-cari alasan untuk mengatakan bahwa selingkuhan Anda punya kelebihan dibanding suami. Karena kalau tidak selingkuh, Anda tidak akan punya pembanding.
Bagaimana bisa Anda mengatakan kurang terpuaskan secara seksual hanya karena ukuran penis yang berbeda? Kalau tidak terpuaskan secara seksual, Anda perlu mencari tahu bagaimana caranya menambah variasi seksual. Ketika Anda punya pembanding, berarti masalahanya bukan hanya seks.
Membaca dari cerita Anda, nampaknya Anda tidak punya keinginan untuk membangun rumah tangga dengan suami. Anda sibuk mengatakan betapa menyenangkannya selingkuhan. Saran saya, coba tanyakan kepada diri sendiri, apa sih yang sebenarnya Anda inginkan?
Kalau Anda ingin kembali dengan suami untuk membangun rumah tangga yang baik dan saling mengasihi, Anda harus menghentikan perselingkuhan Anda saat ini juga lalu stop membanding-bandingkan.
Saya yakin ukuran penis tidak menjadi hambatan kalau suami dan Anda bisa memiliki posisi seksual yang sesuai dengan bentuk anatomi tubuh suami dan tubuh Anda. Yang sebaiknya Anda lakukan adalah mengunjungi konselor pernikahan lalu perbaikilah kondisi Anda berdua.
Andalah yang harus memulai menjadi pasangan yang romantis dan setia kepada suami untuk membuat dia menjadi pasangan yang setia dan romantis kepada Anda. Kalau Anda selalu sibuk membandingkan, Anda akan sibuk mencari kesalahan suami dan hubungan seperti ini sulit untuk dapat diteruskan.
Kalau cuma karena seks Anda lantas mau berselingkuh, ya sudah. Mungkin nanti dalam hubungan selanjutnya semua penilaian dan cinta akan Anda ukur dengan seks semata. Karena pada dasarnya nanti ketika pasangan sudah sama-sama renta, apalagi sih yang dapat dibagi kecuali cinta ?
Pilihlah hal yang membuat Anda bahagia. Saya yakin kalau memang Anda menganggap rumah tangga lebih penting, jangan teruskan perselingkuhan Anda. Mungkin Anda juga punya opsi untuk tidak meneruskan pernikahan daripada harus berbohong dan berselingkuh.
Saya yakin hubungan Anda dengan suami masih dapat diperbaiki karena nampaknya Anda adalah wanita yang cerdas dan mampu serta tahu apa yang dimau. Wanita yang tahu apa yang dimau sebenarnya adalah wanita yang cerdas dalam membangun keluarga atau meyakinkan suami agar bisa memuaskan istri.
Perjuangkanlah pernikahan Anda sampai titik darah penghabisan. Saya juga yakin sebenarnya ada beberapa hal yang membuat suami terlihat menarik secara sekual dan romantis. Namun ketika Anda berusaha mencari pembanding dan terus-terusan mencari alasan untuk meneruskan hal yang salah, tentu hal itu tidak akan membuat rumah tangga jadi lebih baik.
Zoya Amirin, M.Psi
Psikolog seksual bersertifikasi yang memiliki pendidikan seksual yang berlatar belakang psikologi. Ketua dalam Komunitas Studi mengenai Perilaku Seksual, anggota dari Asosiasi Seksologi Indonesia.
Pengajar mata kuliah Kesehatan Reproduksi, Ilmu Hubungan antar manusia, Public Relation, Ilmu Komunikasi Dasar di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.
(pah/vit)










































