Sakit Diabetes, Amankah Makan dan Minum yang Manis Saat Buka Puasa?

Sakit Diabetes, Amankah Makan dan Minum yang Manis Saat Buka Puasa?

Suherni Sulaeman - detikHealth
Senin, 15 Jul 2013 17:20 WIB
Sakit Diabetes, Amankah Makan dan Minum yang Manis Saat Buka Puasa?
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Ibu saya mengidap diabetes, katanya penyakit itu bisa turunan, padahal kalau buka puasa disunahkan makan/minum yang manis-manis, saya takut terkena resiko penyakit tersebut. Bagaimana saya mengantisipasinya Dok? Berapa gelas teh manis yang aman untuk diminum saat buka puasa, jika menggunakan gula biasa (bukan gula tropicana) boleh tidak Dok? Mohon penjelasannya Dok. Terimakasih.

Aries W (Laki-laki menikah, 41 tahun)
arisXXXX@yahoo.co.id
Tinggi badan 165 cm, berat badan 58 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sdr. Aries, terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Kami amat berempati dan bersimpati atas kondisi Ibunda dari sdr. Aries.

Mari kita langsung menuju ke pokok persoalan dan pembahasannya.

Penderita kencing manis (diabetes melitus) amat dianjurkan untuk melakukan medical check up (pemeriksaan kesehatan) minimal 1-2 bulan sebelum puasa Ramadan. Beberapa hal yang perlu dilakukan assessment (penilaian), misalnya:

1. kondisi fisik secara umum, 2. adaptasi aktivitas fisik yang boleh dilakukan, 3. memahami tanda-tanda dehidrasi, hipoglikemia (penurunan kadar glukosa/gula di dalam darah), dan hiperglikemia (peningkatan kadar glukosa/gula di dalam darah) serta tahu bagaimana solusinya, 4. pengenalan terhadap beragam parameter metabolisme tubuh, 5. penyesuaian dosis obat, pola asupan selama puasa Ramadan

Rekomendasi bagi penderita diabetes yang berpuasa Ramadan:

1. Perencanaan makan
Jumlah asupan kalori sehari selama berpuasa sebulan sama dengan jumlah asupan harian yang dianjurkan dokter sebelum puasa. Teknisnya adalah 40% dikonsumsi saat sahur, 50% saat berbuka, 10% malam sebelum tidur (sesudah sholat tarawih), 2. Makan sahur sebaiknya diakhirkan, 3. Tetap melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya, 4. Dianjurkan beristirahat sejenak di siang hari, yaitu setelah sholat zuhur, 5. Hindari kebiasaan ngemil (sering makan camilan) terutama yang manis-manis (kue, permen, coklat, manisan, dsb) di malam hari, 6. Saat berbuka sebaiknya tidak langsung makan berat, jadi makan sedikit demi sedikit namun sering. Hindari merasa terlalu kenyang (atau kekenyangan) saat berbuka puasa, 7. Perbanyak konsumsi sayur dan buah-buahan, 8. Lakukan olahraga ringan selama maksimal 20 menit menjelang berbuka puasa. Lakukan secara rutin, teratur, dan berkesinambungan, 9. Hindari langsung tidur setelah makan sahur, berbuka puasa, dan makan malam, 10. Berbuka puasa paling aman dengan mengkonsumsi tujuh buah kurma. Hal ini berlaku secara umum, baik untuk orang normal maupun bagi penderita diabetes melitus.

Untuk teh manis, relatif aman, asalkan tidak berlebihan. Bila ditanya berapa gelas teh manis yang aman untuk penderita diabetes? Maka jawabannya disesuaikan dengan kondisi penderita dan faktor-faktor lainnya. Namun secara umum 1-2 gelas (kecil-sedang) teh manis diperbolehkan.

Kurma: Penakluk Diabetes
Menurut Ranilla, dkk (2008), kandungan gula pada kurma kaya akan fenol, antioksidan kuat, inhibitor kuat dari alfa-glukosidase, alfa-amilase. Inhibitor alfa-glukosidase secara luas digunakan sebagai pengendali kadar glukosa darah pada diabetes tipe 2. Alfa-amilase juga dipertimbangkan sebagai target obat yang potensial untuk perkembangan obat-obat antidiabetes. Uniknya, kandungan gula di sebagian besar varietas kurma, berupa glukosa dan fruktosa, tidak memerlukan enzim untuk dicerna dan secara otomatis langsung diserap ke sirkulasi tubuh. Kandungan antioksidan pada kurma, seperti: alfa dan gama-tokoferol, alfa dan beta-karoten, likopen, beta-kriptosantin, lutein, zeaxanthin, retinol, asam askorbat, juga berperan di dalam “menaklukkan” diabetes. Kurma juga menguatkan aktivitas enzim antioksidan endogen dengan menyediakan ion-ion logam dalam bentuk mineral, berupa: Se, Zn, Mg, dsb yang berfungsi sebagai kofaktor pada beragam enzim-enzim antioksidan. Kandungan genistein dan daidzein juga meningkatkan konsentrasi trigliserid plasma dan asam lemak bebas. Selain itu, tingginya kandungan fitoestrogen pada kurma berpotensi menjaga metabolisme glukosa normal baik pada populasi normal maupun pada populasi penderita diabetes.

Bolehkah Penderita DM Berpuasa?
Untuk penderita diabetes melitus tipe I, dokter memang merekomendasikan tidak berpuasa, mengingat berisiko tinggi, salah satunya terjadi hipoglikemia. Namun bila memang bertekad untuk berpuasa, maka penderita DM tipe I ini disarankan menggunakan terapi insulin dalam regimen basal bolus dan secara rutin periksa kadar glukosa darah.

Untuk penderita diabetes melitus tipe II, memang tidak ada masalah. Jadi aman untuk berpuasa. Namun tetap saja harus tercukupi kebutuhan/asupan cairannya agar tidak terjadi dehidrasi dan trombosis.

Penderita dengan Terapi Insulin
Bagi penderita diabetes yang sedang dalam terapi insulin (terutama insulin dengan waktu paruh panjang), maka insulin diberikan saat makan besar ketika berbuka puasa. Untuk insulin kerja cepat preprandial tetap dapat diberikan selama berpuasa, tanpa dosis siang hari. Untuk insulin kerja campuran (premix), dapat diberikan pagi, saat berbuka, dan setengah dosis diberikan malam hari atau saat sahur.

Kapan Penderita Boleh Membatalkan Puasa?
Beberapa kondisi atau keadaan memperbolehkan untuk membatalkan puasa, yaitu saat:
1. terjadi hipoglikemia (kadar glukosa/gula di dalam darah kurang dari 60 mg/dL)
2. terjadi hiperglikemia
3. kadar glukosa darah kurang dari 70 mg/dL dalam 1-2 jam awal puasa. Khususnya bila penderita mengkonsumsi insulin atau sulfonilurea saat sahur. Solusinya, agar lebih sering memeriksa kadar glukosa darah. Misalnya 2 jam setelah sahur.

Manajemen atau penatalaksanaan penderita diabetes bersifat kasuistik dan personal, sehingga penilaian / parameter yang objektif benar-benar diperlukan, yaitu berdasarkan kadar gula (glukosa) darah. Tentunya juga mempertimbangkan risiko terjadi hipoglikemia. Yang terpenting lagi adalah dokter dapat memberikan pemahaman yang komprehensif kepada penderita DM tentang rekomendasi penatalaksanaan puasa pada pasien diabetes yang dikeluarkan oleh American Diabetes Association (ADA) tahun 2010.

Demikian penjelasan kami, semoga bermanfaat.

Salam sehat dan sukses selalu.

Dito Anurogo
Dokter online, konsultan detik.com, pemerhati neurosains, hematopsikiatri, medikopomologi, neurofarmakogenomik, neuronanomedicine. Penulis 13 buku, salah satunya “5 Menit Memahami 55 Problematika Kesehatan”. Saat ini mengabdi dan berkarya di Neuroscience Department, Brain Circulation Institute of Indonesia, Surya University (BCII SU).

(hrn/vit)

Berita Terkait