Sudah Setahun Maag Tak Juga Sembuh, Bila Kambuh Dada Terasa Penuh

Sudah Setahun Maag Tak Juga Sembuh, Bila Kambuh Dada Terasa Penuh

Suherni Sulaeman - detikHealth
Rabu, 17 Jul 2013 13:45 WIB
Sudah Setahun Maag Tak Juga Sembuh, Bila Kambuh Dada Terasa Penuh
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Dokter yang baik, kenapa penyakit maag saya sudah setahun ini nggak sembuh-sembuh, padahal saya nggak sering telat makan. Yang paling saya keluhkan kalau sudah kambuh dada terasa penuh seperti makanan nggak mau turun. Tolong dokter saya dikasih solusi yang terbaik. Terimakasih.

Santi Puspita Rini (Perempuan menikah, 33 tahun)
santiXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi badan 158 cm, berat badan 58 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dear Santi Puspita Rini, terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Kami ikut berempati atas keadaan yang sedang saudari alami. Dari frase kunci 'maag sudah setahun' maka ada kemungkinan sdri. Santi Puspita Rini mengalami dispepsia.

Dispepsia adalah gejala (symptom) dan bukan suatu diagnosis. Dispepsia adalah kelompok gangguan yang heterogen. Tidak ada mekanisme patofisiologis definitif untuk dispepsia fungsional.

Untuk menegakkan kriteria diagnostik dispepsia fungsional, maka dokter harus memperhatikan kriteria Rome III, yaitu:
Setidaknya ada satu kriteria berikut ini
1. Rasa penuh setelah makan yang terasa mengganggu, 2. Mudah merasa kenyang/perut cepat terasa penuh, 3. Nyeri di ulu hati, 4. Rasa/sensasi terbakar di ulu hati, 5. Tidak ada bukti penyakit struktural (termasuk dengan endoskopi) yang mungkin menjelaskan gejala-gejala yang terjadi.

Kriteria ini harus terpenuhi sedikitnya selama tiga bulan terakhir dengan onset gejala setidaknya enam bulan sebelum diagnosis ditegakkan. Peranan infeksi Helicobacter pylori pada dispepsia fungsional juga telah diteliti.

Kemungkinan Lain

Mengingat data yang disertakan amat terbatas, maka kami hanya bisa menduga beberapa kemungkinan lain selain dispepsia, yang mungkin saja diderita oleh sdri. Santi Puspita Rini, yaitu:
1. dispepsia non-ulser, 2. tukak lambung (peptic ulcer disease), 3. gastritis kronis, 4. GERD (gastro-esophageal reflux disease), 5. IBS (irritable bowel syndrome), 6. pankreatitis kronis, 7. adanya parasit di usus (intestinal parasites), 8.gangguan pencernaan karbohidrat (carbohydrate malabsorption), misalnya: lactose, fructose, sorbitol. Yang sering terjadi adalah intoleransi laktosa, 9. Dispepsia berkaitan dengan obat (drug-induced dyspepsia), seperti: obat anti-inflamasi non-steroid (non-steroidal anti-inflammatory drugs, NSAIDs), acarbose, antibiotik (terutama macrolides), alendronate, cisapride, digoxin, kodeine, kortikosteroid, metformin, orlistat, theophylline, zat besi (iron), suplemen potassium, dsb, 10. Cholelithiasis (batu empedu) atau choledocholithiasis (batu saluran empedu), 11. Iskemia mesenterik kronis, 12. Gangguan sistemik (diabetes, tiroid, paratiroid, hipoadrenalisme, penyakit jaringan konektif), 13. Keganasan di perut (abdominal malignancy), terutama kanker pankreas dan kanker lambung (gastric cancer), 14. Infeksi Helicobacter pylori, 15. Oesophagitis, 16. Duodenitis, 17. Gastric and duodenal erosions, 18. Perdarahan saluran cerna bagian atas, 19. Cholecystitis (radang kantung empedu), 20. Nyeri biliary, 21. Emboli paru-paru (pulmonary embolism), 22. Pleurisy (nyeri dada yang berubah saat bernafas), 23. Efusi pleura (pleural effusions), 24. Penyakit Coeliac, ditandai dengan ketidaknormalan kualitas atau frekuensi dari pergerakan usus (bowel), sering kentut, perut kembung, 25. Penyalahgunaan alkohol dan zat

Untuk memastikan penyebab yang mendasarinya, maka berkonsultasi ke dokter adalah solusi terbaik. Dokter akan melakukan anamnesis (wawancara terstruktur, terarah, holistik, komprehensif), pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (bila diperlukan), menegakkan diagnosis, memberikan terapi, dan melakukan evaluasi dan edukasi ke penderita sesuai diagnosis penyakitnya.

Solusi

1. Berpola hidup sehat dan seimbang.
Ini maknanya dalam dan luas. Bekerja, beristirahat, berolahraga, berorganisasi, bermasyarakat secara dinamis dan harmonis. Termasuk seimbang antara sisi jasmani-ruhani, antara sisi duniawi dan surgawi. Bagi pemeluk Islam, melakukan shalat malam (Tahajud) telah terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sehingga efektif pula di dalam mencegah beragam penyakit, termasuk penyakit maag, 2. Diet 4 sehat 5 sempurna, 3. Menghindari atau meminimalkan konsumsi minuman bersoda (soft drink), 4. Menghindari atau meminimalkan konsumsi makanan berlemak, pedas, terlalu panas, 5.Menghindari atau meminimalkan konsumsi minuman dan makanan yang berpengawet (mengandung monosodium glutamate/MSG, dsb), mengandung zat pewarna buatan, zat pemanis, 6. Meminimalkan 'hobi' memakan junk foods, namun lebih baik menghidari sama sekali, 7. Perbanyak konsumsi jus buah segar, buah-buahan segar, sayuran segar atau dimasak. Jus yang kami anjurkan adalah jus lidah buaya 2-3 gelas per hari, tanpa gula, tanpa madu, dikonsumsi rutin setiap hari, selama 1-2 minggu, 8. Luangkanlah waktu untuk rekreasi bersama sahabat, keluarga, atau tetangga. Boleh ke lepas pantai, mendaki gunung, memancing, berkemah, dsb, 9. Luangkanlah waktu minimal 15 menit setiap harinya untuk: relaksasi, mendengarkan musik klasik, membaca buku (hikmah, humor, dsb), menulis di buku harian, berkebun, jogging, atau aktivitas lainnya yang mengistirahatkan serta membuat nyaman jiwa-raga.

Demikian penjelasan kami, semoga bermanfaat dan mencerahkan.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dito Anurogo
Dokter online, konsultan detik.com, pemerhati neurosains, hematopsikiatri, medikopomologi, neurofarmakogenomik,neuronanomedicine. Penulis 13 buku, salah satunya “5 Menit Memahami 55 Problematika Kesehatan”. Saat ini mengabdi dan berkarya di Neuroscience Department, Brain Circulation Institute of Indonesia, Surya University (BCII SU).

(hrn/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads