Fitriana (Wanita lajang, 17 tahun)
azzahraXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi badan 160 cm, berat badan 60 kg
Jawaban
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari petunjuk yang menyebutkan 'sering berkeringat di bagian telapak tangan dan kaki' maka ada kemungkinan besar dik Fitriana menderita hiperhidrosis (berkeringat berlebihan). Hiperhidrosis umum dijumpai pada 3% dari populasi penduduk. Baik pria maupun wanita berpeluang sama menderita hiperhidrosis. Secara singkat dapat dipostulasikan bahwa hiperhidrosis terjadi karena gangguan fungsi (dysfunction) sistem persarafan sympathetic, terutama, serabut kolinergik (cholinergic fibres) yang menginervasi (mempersarafi) kelenjar ekrin.
Kulit manusia memiliki sekitar 2-4 juta kelenjar keringat, yang dibedakan menjadi kelenjar ekrin dan apokrin. Kelenjar apokrin ditemukan di lipatan paha dan ketiak, tidak berperan penting pada proses terjadinya hiperhidrosis. Kelenjar ekrin terdistribusikan di lapisan kulit dalam di hampir semua bagian tubuh, seperti: dahi, telapak kaki, ketiak, telapak tangan, pipi. Kelenjar ekrin memproduksi cairan dalam jumlah sedikit, tidak berbau, bersifat hipotonik terhadap plasma, yang berpotensi menjadi hiperhidrosis bila diekskresi secara berlebihan. Kelenjar ekrin penting di dalam pengaturan suhu tubuh (thermoregulation), respon terhadap rangsang emosional dan rasa (pengecapan, gustatory), berupa: stres, cemas, takut, dan nyeri. Pada penderita hiperhidrosis, kelenjar ekrin terbukti hiperaktif. Jadi pada organ/daerah yang sering berkeringat, kelenjar ekrin aktif bekerja (bahasa medisnya: mengalami neurogenic overactivity). Hal ini disebabkan oleh hipereksitabilitas dari berbagai sirkuit refleks somatosimpatetik yang terlibat di dalam sekresi kelenjar ekrin. Beberapa riset menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas simpatetik terjadi di ganglia T2 dan T3 simpatetik dorsal atas. Jadi jelaslah bahwa hiperhidrosis fokal melibatkan disfungsi regulatori dan otonomik yang kompleks baik pada jalur persarafan simpatetik dan parasimpatetik.
Penyebab
Hiperhidrosis disebabkan oleh multifaktor, misalnya:
1. Gangguan endokrin dan metabolisme, berupa: hipertiroidisme, hiperpituitarisme, diabetes melitus, hipoglikemia, gigantisme dan akromegali, menopause (berhenti menstruasi/haid), kehamilan, 2. Gangguan persarafan (neurologik), berupa: penyakit Parkinson, cedera sumsum tulang belakang (spinal cord injury), kecelakaan yang mengenai kepala (cerebrovascular accident), 3. Obat-obat tertentu dapat menginduksi hiperhidrosis, misalnya: golongan antidepresan, antiemetik, dsb, 4. Toksik (racun), misalnya: penyalahgunaan alkohol, NAPZA, 5. Gangguan infeksi, berupa: demam, infeksi kronis (menahun), 6. Gangguan jantung dan pembuluh darah (cardiovascular), berupa: syok, gagal jantung, 7. Keganasan (neoplastic), berupa: gangguan myoproliferative, limfoma Hodgkin, tumor karsinoid, pheochromocytoma, 8. Kegagalan saluran pernapasan (respiratory failure).
Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis hiperhidrosis fokal primer, maka dokter harus mempertimbangkan kriteria yang telah direkomendasikan oleh The Multi-Specialty Working Group on the Recognition, Diagnosis, and Treatment of Primary Hyperhidrosis, yaitu: berkeringat berlebihan, jelas/nyata terlihat, fokal, berlangsung selama sedikitnya enam bulan, tanpa penyebab yang jelas, disertai sedikitnya dua dari enam kriteria berikut ini:
1. distribusi relatif simetris dan bilateral, 2. aktivitas sehari-hari terganggu, 3. frekuensi: setidaknya satu episode per minggu, 4. onset: berusia kurang dari 25 tahun, 5. ada riwayat keluarga yang juga menderita hiperhidrosis, 6. berhenti berkeringat saat sedang tidur
Kriteria di atas ditunjang dengan penilaian skor Hyperhidrosis Disease Severity Scale (HDSS).
Komplikasi
Beberapa kasus hiperhidrosis berat dapat mengurangi kualitas hidup penderita, misalnya menimbulkan beban psikologis, malu berinteraksi dengan masyarakat (social embarrassment), dan ketidakmampuan yang berkaitan dengan aktivitas dan rutinitas sehari-hari. Hiperhidrosis di ketiak menimbulkan bau tak sedap, menimbulkan rasa malu. Telapak kaki dan tangan yang berkeringat berlebihan juga berpotensi menyebabkan iritasi kulit, yang pada akhirnya memicu gerakan menggosok-gosok.
Pencegahan
Ada beberapa kiat di dalam meminimalkan komplikasi serta mencegah hiperhidrosis menjadi bertambah parah, misalnya:
1. Bersihkan kulit setiap malam dan pagi, 2. Hindari memakai pakaian dari bahan lycra dan nylon, 3. Lebih baik gunakan emollient (penyejuk, pelembut kulit) dan moisturizer (pelembab kulit) daripada sabun, 4. Memakai pakaian berwarna hitam atau putih yang tidak menampakkan keringat, 5. Menghindari minuman dan/atau makanan yang berpotensi menyebabkan keringat berlebihan dan beraroma tidak sedap, misalnya: rempah-rempah dengan aroma tajam, semua yang berasa pedas, daging kambing dan produk olahannya, 6. Memberi bedak setelah mandi, terutama di daerah yang sering berkeringat, 7. Minum air putih sebanyak 8-10 gelas (2 liter) per hari untuk menjaga homeostasis tubuh, 8. Bila telapak kaki sering berkeringat, maka kaus kaki harus sering diganti. Bila memungkinkan, maka pakailah sepatu yang longgar, berpori, atau agak terbuka, sehingga telapak kaki dapat 'bernapas'. Bila memungkinkan, lepaslah kaus kaki dan pakailah sepatu sandal yang formal, 9. Sering mencuci tangan terutama dengan sabun antibakteri, 10. Membatasi konsumsi coklat, asam sitrat, kopi, peanut butter, karena berpotensi menyebabkan ”berkeringat” (gustatory sweating).
Solusi
Ada beberapa solusi yang boleh direkomendasikan oleh dokter, berupa:
1.Obat/agen sistemik, misalnya: antikolinergik (contohnya: propantheline bromide, glycopyrrolate, oxybutynin, dan benztropine), sedatives dan tranquilizers, indomethacin, dan penghambat saluran kalsium (calcium channel blockers) yang bermanfaat untuk mengobati palmoplantar hyperhidrosis, yaitu hiperhidrosis di daerah telapak tangan dan telapak kaki.
Penggunaan antikolinergik perlu mempertimbangkan beberapa efek samping yang mungkin muncul, seperti: refleks dilatasi pupil (midriasis), penglihatan kabur, mulut-mata terasa kering, sulit kencing, dan sulit buang air besar (konstipasi).
2.Obat/agen topikal, yaitu: antikolinergik topical, asam borat, solusi asam tanat 2-5%, resorsinol, kalium permanganat, formaldehid, glutaraldehid, dan methenamine. Drysol (20% aluminum chloride hexahydrate dalam absolute anhydrous ethyl alcohol) umum digunakan sebagai lini pertama obat topikal, dipakai malam hari di kulit yang kering. Untuk meminimalkan iritasi, sisa obat sebaiknya dicuci saat bangun tidur, lalu daerah tersebut dinetralkan dengan aplikasi topikal baking soda.
3. Suntikan Botox (Botulinum toxin injections)
Suntikan botulinum toxin tipe A (BTX-A) efektif karena efek antikolinergiknya pada neuromuscular junction dan pada postganglionic sympathetic cholinergic nerves di kelenjar keringat. Kontraindikasi absolut yang perlu dipertimbangkan dari injeksi BTX-A ini adalah alergi terhadap komponen BTX-A dan terjadinya infeksi di daerah yang disuntik.
4. Iontophoresis
Pada kasus palmoplantar hyperhidrosis, dosis harian untuk setiap telapak tangan atau telapak kaki selama 30 menit adalah 15-20 mA dengan tap water iontophoresis. Namun sementara ahli berpendapat bahwa terapi dengan anticholinergic iontophoresis lebih efektif daripada dengan tap water iontophoresis.
5. Pembedahan (operasi)
Tindakan pembedahan (operasi) yang dapat dilakukan untuk mengatasi hiperhidrosis antara lain: simpatektomi, eksisi daerah yang mengalami hiperhdrosis, penggunaan laser 1064-nm Nd-YAG, dan liposuction subkutan.
Simpatektomi adalah pilihan terakhir di dalam penatalaksanaan hiperhidrosis karena melibatkan pembedahan destruksi ganglia yang bertanggung jawab atas terjadinya hiperhidrosis.
Ganglia thoracic kedua (T2) dan ketiga (T3) bertanggung jawab untuk palmar hyperhidrosis. Ganglia thoracic keempat (T4) mengendalikan hiperhidrosis di ketiak. Sedangkan ganglia thoracic pertama (T1) mengendalikan hiperhidrosis di wajah.
Dua pendekatan pembedahan yang dilakukan: pendekatan terbuka dan endoskopik. Pendekatan endoskopik lebih disukai karena proses perbaikan dari komplikasi, surgical scars, dan waktu pembedahan. Metode endoscopic thoracic sympathectomy efektif untuk mengatasi hiperhidrosis, terutama hiperhidrosis tipe palmar (telapak tangan), facial (wajah), dan axillary (ketiak).
Demikian penjelasan kami, semoga bermanfaat dan mencerahkan.
Salam sehat dan sukses selalu!
Dito Anurogo
Dokter online, konsultan detik.com, pemerhati neurosains, hematopsikiatri, medikopomologi, neurofarmakogenomik,neuronanomedicine. Penulis 13 buku, salah satunya “5 Menit Memahami 55 Problematika Kesehatan”. Saat ini mengabdi dan berkarya di Neuroscience Department, Brain Circulation Institute of Indonesia, Surya University (BCII SU).
(hrn/vta)











































