Flek di Paru Bikin Perut Anak Buncit dan Pencernaannya Terganggu

Flek di Paru Bikin Perut Anak Buncit dan Pencernaannya Terganggu

detikHealth
Rabu, 21 Agu 2013 15:16 WIB
Leona Victoria Djajadi
Ditulis oleh:
Leona Victoria Djajadi
Master of Nutrition and Dietetics (Ahli Gizi) dari University of Sydney. Dengan minat khusus pada program diet untuk oncology, cardiology, diabetes, gastrointestinal and life modification program diets. Pengasuh Klinik Gizi Keluarga http://www.klinikgizi.info/. Follow twitter @Leona_victoria.
Flek di Paru Bikin Perut Anak Buncit dan Pencernaannya Terganggu
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Dear Mbak Victoria,

Anak saya umur 4,5 tahun. Dulu waktu usia 6 bulan terkena flek dan sampai umur 2 tahun baru berhenti minum obat karena setiap kali rontgen masih ada bayangan di paru. Saya mau tanyakan, anak saya sekarang umur 4,5 tahun perutnya buncit, kurus, kalau makan asam muntah, apalagi makanan yang agak kasar pasti dimuntahin. Maunya makan cokelat dan kecap sama nasi terus. Dan kalau makan agak banyak langsung BAB.

Apakah ada efek karena terlalu banyak konsumsi obat? Bagaimana solusi pengobatannya supaya bisa tumbuh sehat? Kami mohon pencerahannnya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hormat kami,
Masnowo.

Masnowo (Laki laki menikah, 37 tahun)
amasXXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 170 cm, berat badan 55 kg

Jawaban

Halo Pak Maswono,

Mungkin lain kali agar lebih jelas untuk saya boleh menyebutkan tinggi dan berat badan anak, juga jenis obat yang dipakai.

Obat flek paru memang diketahui mempunyai efek samping seperti hilang nafsu makan, mual, muntah, gangguan hati (jaundice), gatal-gatal dan urine berwarna gelap saat treatment berlangsung. Namun efeknya seharusnya berhenti saat treatment di-stop, apalagi sudah lewat 2 tahun. Saya rasa anak Anda terbawa kebiasaan saat treatment. Mungkin dulu saat treatment (yang kebetulan juga bertepatan dengan saat pengenalan makanan padat & sensori cita rasa & tekstur), anak Anda mengalami efek samping seperti mual, muntah. Lalu dia mengasosiasikan efek negatif ini dengan makanan yang diberikan oleh orang tua sampai sekarang.

Makanan halus dan berkuah memang lebih cocok untuk anak yang sedang sakit dan mual karena mudah di telan dan membantu rehidrasi. Nah, anak Anda juga saya rasa lebih terbiasa makan yang seperti ini karena dia rasa efeknya positif untuk tubuhnya.

Sebagai orang tua kita tentu khawatir saat anak makannya susah tapi jangan memaksakan anak makan (force feeding) karena efeknya akan semakin negatif terhadap makanan tersebut.

Saran saya:
- perkenalan tekstur makanan. Beri anak bermacam-macam tekstur makanan di piring (warna sama/warna-warni) lalu ajak bermain edukasi, seperti membandingkan nama, bentuk, ukuran, warna, tekstur. Tidak usah menyuruh anak makan. Tahap ini agar anak mentoleransi kehadiran makanan/tekstur baru di piringnya.
- Jika anak sudah mau pegang & cium bau makanan, ajak untuk merasakan (jilat, emut). Lagi, jangan paksa untuk dilkunyah/telan
- sekarang anak punya pengalaman positif, atau setidaknya netral, terhadap makanan/tekstur baru. Boleh mulai dimasukkan ke dalam diet harian.

Semoga sukses!

Leona Victoria Djajadi MND
Master of Nutrition and Dietetics (Ahli Gizi) dari University of Sydney.
Dengan minat khusus pada program diet untuk oncology, cardiology, diabetes, gastrointestinal and life modification program diets.
Pengasuh Klinik Gizi Keluarga http://www.klinikgizi.info/. Follow
twitter @Leona_victoria.

(hrn/vit)

Berita Terkait