Remaja 17 Tahun yang Sulit Menambah Tinggi Badan

Remaja 17 Tahun yang Sulit Menambah Tinggi Badan

Suherni Sulaeman - detikHealth
Kamis, 10 Okt 2013 15:45 WIB
Remaja 17 Tahun yang Sulit Menambah Tinggi Badan
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Saya ingin bertanya, kenapa sulit sekali bagi saya menambah tinggi badan. Segala cara telah saya lakukan, dari minum suplemen dan olahraga, renang, dan bagaimana lagi agar saya bisa menambah tinggi badan lagi, mohon bantuan dan sarannya, Dokter Dito. Terimakasih.

Jim (Pria lajang, 17 tahun)
jimwiXXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 158 cm, berat badan 45+ kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dear Jim yang dirahmati Allah, terimakasih atas kepercayaannya kepada kami.

Jim, memiliki tinggi badan 158 cm itu haruslah disyukuri, karena banyak yang lebih pendek dari dirimu. Hmm… sayangnya Jim belum menyebutkan berapa tinggi kedua orangtuamu. Karena salah satu faktor tinggi-pendeknya seseorang itu dipengaruhi oleh genetika.

Selain genetika, pertumbuhan, juga tinggi badan, amat dipengaruhi oleh multifaktor, seperti: panjangnya tulang, hormon pertumbuhan, diet, gaya hidup, milieu (lingkungan), epigenetik, dan banyak lagi faktor yang lainnya. Bila lempeng tulang berhenti memanjang, maka otomatis seseorang akan berhenti bertumbuh-kembang, akibatnya, tingginya tetap (statis), alias tidak bertambah lagi.

Riset di dunia kedokteran terkini hanya mampu menguak sedikit tentang solusi untuk memaksimalkan pertumbuhan dan tinggi badan.

Ketersediaan somatotropin (recombinant human growth hormone) telah merevolusi sekaligus memberikan solusi bagi mereka (anak) yang bertubuh pendek. Sayangnya, hormon ini direkomendasikan dokter terutama untuk usia 1-6 tahun.

Somatotropin ini terutama diberikan untuk penderita akondroplasia (achondroplasia). Akondroplasia adalah gangguan pertumbuhan tulang (skeletal dysplasia) dimana tidak terbentuk kartilago (tulang rawan) sehingga perawakannya pendek.

Pemberian hormon pertumbuhan juga tidak serta-merta efektif, sebab bila diberikan setelah tulang berhenti bertumbuh akan memicu komplikasi serius yang disebut akromegali (sindrom raksasa). Akromegali adalah kumpulan gejala (sindrom) yang terjadi saat kelenjar pituitari anterior memproduksi kelebihan hormon pertumbuhan setelah lempeng epifisis menutup di masa pubertas.

Beruntunglah di tahun 1999, tim Masayasu Kojima menemukan ghrelin. Nama ghrelin sendiri berasal dari 'ghre' kependekan dari 'growth hormone-releasing' dan sufiks (tambahan di belakang kata dasar) 'lin' yang menunjukkan hormon. 'Ghre' juga merupakan akar kata dari rumpun Proto-Indo-Eropa yang berarti "(ber)tumbuh". Peran ghrelin sebagai hormon pertumbuhan pelepas peptide (growth hormone-releasing peptide).

Ghrelin adalah suatu peptida asam amino 28 yang baru, dijumpai di hipotalamus dan perut. Ghrelin teridentifikasi sebagai ligand endogen untuk reseptor secretagogue hormon pertumbuhan (growth hormone secretagogue receptor; GHS-R). Ghrelin disintesis terutama di perut dan dijumpai di sistim sirkulasi manusia sehat. Pada manusia, ghrelin berpotensi memicu selera makan, meningkatkan asupan makanan, menstimulasi produksi hormon pertumbuhan. Di masa depan, ghrelin ini berpotensi dikembangkan menjadi pemicu pertumbuhan atau tinggi badan.

Sebagian masyarakat modern percaya bahwa yoga mampu secara efektif meningkatkan tinggi badan. Beberapa posisi (asana) yoga menurut stylecraze.com yang efektif untuk meningkatkan tinggi badan antara lain: surya namaskar, sukhasana, talasana (posisi gunung), trikonasana (posisi segitiga), parivrtta trikonasana, anjing dan kucing, adhomukha savasana, asana pohon, chakrasana, hastapadasana. Meskipun demikian, efektivitas yoga di dalam meningkatkan hormon pertumbuhan belum ada evidence based medicine (bukti ilmiahnya).

Demikian penjelasan ini. Semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dokter Dito Anurogo

Pelopor dokter online (dokter digital), konsultan detik.com, penemu konsep hematopsikiatri, penulis 13 buku, salah satunya “5 Menit Memahami 55 Problematika Kesehatan”. Juara pertama kompetisi “2013 World Young Doctors’ Organization (WYDO) Indonesia Essay Contest Award”.

Penggagas dan pelopor konsep neuroedutainment (cara asyik dan mudah memahami medis, neurosains, dan neurologi) melalui permainan Brain Card Games (BCG).

Saat ini mengabdi dan berkarya di Neuroscience Department, Brain Circulation Institute of Indonesia, Surya University (BCII SU), Indonesia.

(hrn/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads