Kepala Sering Pusing karena Pernah Terbentur, Haruskah CT Scan?

Kepala Sering Pusing karena Pernah Terbentur, Haruskah CT Scan?

Suherni Sulaeman - detikHealth
Jumat, 28 Mar 2014 12:45 WIB
Kepala Sering Pusing karena Pernah Terbentur, Haruskah CT Scan?
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Dok, 6 tahun yang lalu saya pernah terjatuh tetapi kepalanya duluan. Saat itu saya tidak muntah atau kenapa-kenapa tetapi sekarang-sekarang ini saya sering pusing di bagian belakang kepala. Apakah rasa pusing itu bisa disebabkan karena saya kepala saya pernah terbentur dan apakah saya harus melakukan scan kepala? Terimakasih.

Anisa Rahmawati (Wanita lajang, 18 tahun)
minichachaXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi badan 160 cm, berat badan 46 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dear Anisa Rahmawati yang dirahmati Allah,

Terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Sebelum menjawab pertanyaanmu, ijinkanlah kami sedikit menjelaskan tentang sejarah, prinsip dasar, serta indikasi melakukan CT scan.

CT scan pertama kali dipergunakan di Atkinson Morley Hospital, London pada tahun 1972. Penggunaan CT scan tetap memerlukan "sentuhan awal" dokter berupa observasi dan investigasi untuk penegakan diagnosis dan penatalaksanaan beragam penyakit sistim saraf pusat.

MRI (magnetic resonance imaging) lebih unggul dibandingkan CT scan dalam hal menilai daerah fossa posterior otak, daerah parasellar otak, dan untuk penilaian multiple sclerosis, epilepsi, dan tumor.

CT scan lebih unggul dibandingkan MRI dalam hal penilaian (assessment) cedera kepala.

Indikasi Computed tomography (CT) scan pada cedera kepala:

Urgen dilakukan jika ada unsur berikut (hasil dalam 1 jam):
1. Glasgow Coma Scale < 13 saat pertama dinilai oleh dokter atau GCS < 15 dua jam setelah cedera kepala.
2. Dicurigai terjadi fraktur kepala terbuka atau depressed
3. Tanda-tanda fraktur basis tengkorak.
4. Kejang paskatraumatik.
5. Defisit neurologis fokal.
6. Lebih dari satu episode muntah.
7. Koagulopati dan amnesia apapun atau kehilangan kesadaran selama cedera.

Adapun tanda-tanda fraktur basis tengkorak (basal skull fracture), adalah:
1. haemotympanum,
2. 'panda' eyes (memar di sekitar mata),
3. kebocoran cairan serebrospinal (telinga atau hidung)
4. Battle's sign (memar yang terkadang terjadi di belakang telinga pada kasus fraktur dasar tengkorak).

Secara umum, CT scan cranial dipergunakan untuk membantu dokter di dalam menegakkan diagnosis:
1. stroke akut
2. Transient ischaemic attack (TIA)
3. perdarahan subarahnoid akut (acute subarachnoid haemorrhage)
4. cedera kepala akut (acute head injury)
5. lesi desak ruang (space-occupying lesions): curiga adanya tumor atau massa, misalnya abses serebral.
6. hidrosefalus
7. sakit kepala kronis
8. evaluasi komplikasi infeksi intrakranial
9. deteksi atau evaluasi kalsifikasi (penulangan)
10. lainnya: perubahan status mental, peningkatan tekanan intrakranial, lesi kongenital, defisit neurologis akut.

CT scan otak abnormal terkait dengan trauma (cedera) setelah minor head injury (MHI) dapat diprediksi oleh keberadaan beberapa indikator, seperti: sakit kepala, muntah, hilangnya kesadaran atau amnesia (lupa), dan intoksikasi alkohol.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka saudari Anisa Rahmawati tidak perlu melakukan CT scan, mengingat cedera kepala terjadi enam tahun yang lalu. Kami merekomendasikan ke dokter terdekat untuk dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, diagnosis banding, penegakan diagnosis, manajemen, follow-up dan edukasi.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dokter Dito Anurogo
Penulis 14 buku. Berkarya di Neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII) Surya University, Indonesia.

(hrn/vit)

Berita Terkait