Sering Mengalami Gangguan Keseimbangan, Mengapa?

Sering Mengalami Gangguan Keseimbangan, Mengapa?

detikHealth
Senin, 11 Agu 2014 13:58 WIB
Ditulis oleh:
Sering Mengalami Gangguan Keseimbangan, Mengapa?
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Dokter Dito, mengapa ya, saya sering mengalami gangguan keseimbangan misalnya sering terjatuh dan menabrak benda-benda padahal saya tidak memiliki gangguan penglihatan?

Cucu Suryati (Wanita lajang, 20 tahun)
cucu_matahari27XXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 153 cm, berat badan 45 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dear Nona Cucu Suryati yang dirahmati Allah SWT, terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Kami ikut merasakan apa yang nona rasakan. Semoga lekas diberiNya kesembuhan. Amin.

Langsung saja menuju ke pokok permasalahan, ya.

Dari pertanyaan di atas, kami menemukan petunjuk kunci, yaitu: gangguan keseimbangan. Ada beberapa kemungkinan diagnosis yang terkait erat dengan gangguan keseimbangan, seperti:

1. defisiensi vitamin B1 (thiamine)
2. stroke hemoragik
3. stroke iskemik
4. benign paroxysmal positional vertigo (canalithiasis)
5. migrain terkait vestibulopati
6. neuropati perifer
7. vestibular neuritis atau labyrinthitis
8. penyakit Meniere
9. ototoxic vestibulopathy
10. alkohol terkait degenerasi otak kecil (serebelum)
11. penyakit Parkinson idiopatik

Selain 11 kemungkinan diagnosis di atas, maka perlu dipertimbangkan pula beberapa kondisi seperti: defisiensi vitamin E, delirium, depresi, gout, gangguan cemas, meningitis, multiple sklerosis, ensefalopati Wernicke, penyakit Coeliac, sindrom Guillain-Barre, polyradiculopathy, cerebellitis/brainstem encephalitis, multiple system atrophy (Shy-Drager syndrome), neuromyelitis optica, dsb.

Untuk memastikannya, maka dokter akan melakukan anamnesis (wawancara terstruktur, mendetail, komprehensif), yang meliputi:
1. riwayat jatuh (cedera akibat jatuh, jatuh sebelum ini, keadaan/kesadaran saat jatuh, gejala terkait)
2. problematika medis akut dan kronis (menahun)
3. problematika kesulitan berjalan (misal: akibat nyeri, ketidakseimbangan, gejala terkait)
4. aktivitas yang biasa dilakukan, status gerakan, tingkat fungsi
5. review sistem secara lengkap
6. riwayat operasi
7. riwayat penggunaan/konsumsi obat tertentu (jumlah, tipe, dosis), misalnya: golongan antiarrhythmics, diuretik, digoxin, narkotik, antikonvulsan, psikotropik, dan antidepresan).

Kemudian dokter akan melanjutkan pemeriksaan fisik, meliputi: afektif, kognitif, kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), muskuloskeletal (persendian), neurologis (persarafan, refleks otot, koordinasi, dsb), sensorik, tanda-tanda vital (berat badan, tinggi badan, tekanan darah ortostatik, nadi).

Setelah pemeriksaan fisik, maka dokter akan merekomendasikan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi. Barulah dokter akan menegakkan diagnosis dan memberikan penatalaksanaan/terapi yang paripurna.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dito Anurogo
Penulis 15 buku, berkarya di Comprehensive Herbal Medicine Institute (CHMI), Center for Robotic and Intelligent Machines (CRIM), serta Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII), Surya University, Indonesia.

(hrn/up)

Berita Terkait