Merasa Ketakutan Ketika Ada Orang yang Marah

Merasa Ketakutan Ketika Ada Orang yang Marah

detikHealth
Jumat, 16 Okt 2015 15:23 WIB
Ditulis oleh:
Merasa Ketakutan Ketika Ada Orang yang Marah
Ilustrasi: Thinkstock
Jakarta - Saya sejak kecil hingga sekitar umur 17 tahun sering sekali dimarahi oleh paman saya meskipun saya tidak melakukan kesalahan. Akibat dari hal tersebut saya ketakutan pada orang yang marah.

Hal tersebut mengakibatkan saya selalu menghindari untuk bertemu dengan orang-orang tersebut. Kebetulan saya sedang mengerjakan tugas akhir atau skripsi.

Dosen pembimbing skripsi saya terkenal galak, hal itu menyebabkan saya takut bertemu dengan dosen saya. Saya sudah menceritakan hal tersebut kepada dosen saya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Biasanya setelah saya menceritakan uneg-uneg dalam hati saya itu membuat rasa takut saya berkurang, tapi hal tersebut tetap saja tidak mengurangi rasa takut saya samasekali. Apa yang harus saya lakukan supaya saya tidak takut terhadap orang yang suka marah?

Umi (Pria, 22 tahun)
uXXXXX@rocketmail.com
Tinggi 145 cm, berat 38 kg

Jawaban

Dear Kamu yang sedang sering merasa takut.

Pada dasarnya manusia memiliki rasa takut dan hal tersebut bersumber dari awareness ia yang akhirnya memunculkan antisipasi terhadap sesuatu. Namun, merujuk pada ketakutan yang kamu alami, perlu dilihat dan analisa lebih lanjut apakah benar saat ini kamu memang memiliki ketakutan yang berlebih ketika ada orang yang marah atau pada dasarnya ada kemampuan dalam diri kamu yang belum berkembang sesuai dengan usia (kemampuan bertahan dalam situasi yang tidak nyaman).

Apa yang bisa dilakukan ketika kita menghadapi orang yang marah? Selain merasa takut, kita perlu memahami mengapa orang tersebut marah dan apa yang disampaikan kepada kita sehingga ketika bisa memahami reaksi marah tersebut.

Baca juga: Solusi Agar Anak Tak Trauma Dengar Suara Keras karena Sering Dibentak

Kamu juga sempat mengatakan bahwa setelah menyampaikan uneg-uneg (katarsis) membuat rasa takut kamu sedikit terurai meskipun tidak berkurang. Kondisi ini menandakan bahwa kemampuan kamu dalam menganalisa situasi sosial dan menciptakan alternatif solusi belum terlatih secara optimal.

Biasakan diri untuk mengamati situasi (apapun itu) dan berusaha menciptakan alternatif solusi atas masalah/situasi tersebut sebanyak-banyaknya sehingga tidak ada ruang bagi ketakutan kamu untuk berkembang. Membuat alternatif solusi artinya membuat rencana yang secara bertahap dapat dilakukan serta dievaluasi apakah efektif atau tidak.

Selamat Mencoba ya :)

Ratih Zulhaqqi, M.Psi
Psikolog Anak lulusan Magister Profesi Klinis Anak Universitas Indonesia. Saat ini berpraktik di RaQQi - Human Development & Learning Centre
Jl. Tebet Barat IX No 11 Jakarta Selatan Telp 021-85585261/087877928230. Follow Twitter Ratih: @ratihyepe.

(hrn/up)

Berita Terkait